Bambu Lab X2D dan A1 Mini: 3D Printing Tanpa Perlu Bisa Desain

Bambu Lab X2D dan A1 Mini: 3D Printing Tanpa Perlu Bisa Desain

Highlight

Bestindotech
  • Area print A1 Mini hanya 180x180x180mm, sementara X2D jauh lebih lega di 256x256x260mm sehingga desain besar seperti case Steam Controller baru bisa dicetak utuh.
  • Daya maksimal X2D tembus 1600 Watt saat memanaskan bed dan chamber, jauh di atas A1 Mini yang hanya sekitar 120 Watt, bahkan pernah membuat sekering rumah jepret.
  • Harga Bambu Lab X2D versi tanpa AMS mulai sekitar Rp18 jutaan, sedangkan versi lengkap dengan AMS 2 Pro bisa tembus Rp25 jutaan.
Iklan Baseus

Where to Buy

7 products

Bestindotech may earn a commission from these links, at no extra cost to you.

Punya masalah kecil di rumah yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan satu barang custom, tapi barang itu tidak dijual di mana pun, adalah situasi yang sering membuat frustrasi. Remote yang berantakan di meja, minuman yang menumpuk di kulkas tanpa organizer yang pas, atau faceplate aksesoris yang warnanya tidak senada dengan interior rumah. Biasanya solusi paling realistis adalah pasrah atau beli barang yang hampir pas tapi tidak benar-benar sesuai kebutuhan.

Selama hampir setahun terakhir, masalah-masalah semacam itu ternyata bisa diselesaikan dengan 3D printer, bahkan oleh orang yang sama sekali tidak mengerti desain 3D dan belum sempat belajar. Dua printer dari Bambu Lab, mulai dari yang paling basic sampai yang jauh lebih canggih dengan dual nozzle dan full enclosure, dicoba langsung untuk melihat apakah 3D printing di zaman sekarang benar-benar semudah itu dipakai orang awam.

Masalah Utama Bukan Printernya, tapi Kemampuan Desain

Tampilan Bambu Studio saat menyiapkan model grip untuk dicetak

Barang-barang hasil 3D print memang semakin sering terlihat di pasaran, mulai dari custom mount untuk Thunderbolt Dock dan Mac Mini sampai grip tambahan untuk handheld gaming seperti GPD Win Mini. Setiap kali barang semacam itu datang, pertanyaan yang muncul selalu sama, apakah ini bisa dibuat sendiri. Masalahnya selalu satu, tidak bisa 3D modeling dan tidak bisa mendesain file-nya sendiri.

Sampai sekarang kemampuan desain itu pun belum sempat dipelajari karena keterbatasan waktu. Tapi ternyata pakai 3D printer tidak mengharuskan penggunanya belajar 3D modeling terlebih dulu, terutama kalau menggunakan printer dari Bambu Lab. Anggapan bahwa 3D printing hanya cocok untuk engineer atau orang yang jago desain ternyata tidak sepenuhnya benar.

Makerworld Jadi Jalan Pintas tanpa Harus Desain

Halaman Makerworld dengan ragam desain 3D print siap unduh

Jawaban dari pertanyaan paling mendasar, kalau tidak bisa desain lalu mencetak apa, ada di platform bernama Makerworld. Ini adalah komunitas milik Bambu Lab tempat orang-orang mengunggah desain mereka dan mendapat poin yang bisa ditukar untuk membeli filament atau printer. Pengguna lain tinggal mencari desain yang diinginkan, mengunduhnya, lalu langsung mencetak.

Komunitas ini sangat membantu untuk orang yang tidak bisa desain sama sekali. Hampir semua yang pernah dicetak selama ini berasal dari Makerworld, yang juga punya aplikasi bernama Bambu Handy untuk mencari desain sekaligus mencetak lewat cloud dari mana saja selama printer terkoneksi internet. Trik tambahan yang dipakai adalah smart plug untuk colokan listrik printer, sehingga bisa dinyalakan dari ponsel saat ingin mencetak dan dimatikan saat tidak dipakai agar tidak memakan listrik percuma.

A1 Mini Membuktikan 3D Printing Bisa Plug And Play

Bambu Lab A1 Mini mencetak objek berwarna hitam

Bambu Lab A1 Mini dibeli tanpa AMS sejak awal dengan pertimbangan kalau ternyata tidak bisa dimaksimalkan, setidaknya tidak terlalu rugi dan masih bisa dijual lagi. Ternyata justru ketagihan. Bayangan sebelumnya soal 3D printer yang ribet, harus kalibrasi, harus leveling, dan banyak trial error, tidak terjadi di A1 Mini. Prosesnya benar-benar sesimpel colok, koneksi ke aplikasi, pilih model, lalu print.

Berbagai barang sudah berhasil dicetak, mulai dari Post-It holder bertema Snoopy, pemegang remote yang membuat meja jadi rapi, stand untuk iPad, sampai Gridfinity organizer yang cocok dipasang di laci produk IKEA. Yang paling menarik adalah case untuk Steam Controller yang sama sekali tidak dijual di pasaran. Desain aslinya dibuat AI, tapi karena ukurannya tidak muat di A1 Mini, file tersebut diminta dibagi dua bagian dengan mekanisme snap fit lewat AI, dan hasilnya meski kurang rapi tetap berfungsi untuk membawa controller saat bepergian.

Batas Ukuran dan Jenis Filament yang Mulai Terasa

Bambu Lab A1 Mini dengan dimensi area cetak 180mm
Bambu Lab A1 Mini dengan dimensi area cetak 180mm

Semakin lama dipakai, limitasi A1 Mini mulai terasa. Area print bed-nya hanya 180x180x180mm, cukup untuk barang kecil tapi sering membuat kecewa saat menemukan desain bagus yang ternyata tidak muat, seperti case Steam Controller tadi. Solusinya harus mencari desain lain yang memang dibuat khusus untuk A1 Mini, atau membaginya lewat AI yang prosesnya ribet dan memakan waktu, plus belum tentu hasilnya fit sempurna.

Dari sisi filament, A1 Mini idealnya hanya untuk PLA, PETG, TPU, dan PVA. Filament yang lebih sulit seperti ABS, ASA, Nylon, atau Polycarbonate tidak direkomendasikan karena bed hanya mentok di 80 derajat dan printer-nya terbuka tanpa enclosure, sehingga suhu panas tidak bisa dipertahankan. Untuk pemula, PLA memang sudah lebih dari cukup, tapi begitu mulai butuh barang yang tahan panas, misalnya untuk ditaruh di mobil, PLA cepat meleleh karena titik lelehnya rendah. PETG pun kurang direkomendasikan untuk kebutuhan di dalam mobil, sehingga ABS jadi pilihan yang justru tidak bisa dicetak di printer ini.

Kelembapan, Bau, dan Kendala Harian yang Jarang Dibahas

Bambu Lab A1 Mini dengan gulungan filamen biru terbuka
Bambu Lab A1 Mini dengan gulungan filamen biru terbuka

Karena dibeli tanpa AMS, mencetak dengan dua warna sekaligus di A1 Mini tidak bisa otomatis dan harus mengganti filament secara manual di tengah proses print. Untuk otomatis, harus menambah AMS Lite yang dijual terpisah dan modelnya terbuka, sehingga tidak melindungi filament dari kelembapan. Ini jadi masalah besar untuk iklim Indonesia yang sangat lembap, karena filament yang menyerap kelembapan udara akan menghasilkan print yang jelek, muncul stringing, dan teksturnya jadi getas.

Soal bau juga terasa karena printer ini terbuka, sehingga saat mencetak dalam waktu lama, baunya cukup tercium di dalam ruangan. Meski baunya tidak terlalu mengganggu, tetap terasa kurang nyaman kalau terus-menerus terhirup. Dari sisi kegagalan print, catatannya justru cukup positif, sekitar 91 persen hasil print berhasil tanpa masalah. Satu yang masih jadi pekerjaan rumah adalah MagSafe mount untuk Apple Studio Display yang sampai sekarang belum berhasil dicetak dengan baik di A1 Mini.

Bambu Lab X2D Hadir Menjawab Keluhan Satu Per Satu

Perbandingan Bambu Lab A1 Mini dengan Bambu Lab X2D
Perbandingan Bambu Lab A1 Mini dengan Bambu Lab X2D

Kesempatan mencoba Bambu Lab X2D datang setelah konten soal A1 Mini dilihat oleh Bambu Lab, dan di atas kertas printer ini terlihat seperti jawaban langsung dari semua keluhan yang muncul di A1 Mini. Area print-nya jauh lebih besar di 256x256x260mm, dilengkapi dua nozzle yaitu nozzle utama dan nozzle auxiliary sebagai pembantu, serta full enclosure dengan chamber yang bisa dipanaskan sampai 65 derajat Celsius sehingga mampu mencetak filament yang lebih sulit seperti ABS dan ASA. Enclosure ini juga dilengkapi filtrasi udara dengan HEPA filter, sehingga selama sebulan pemakaian, bau sama sekali tidak tercium.

Untuk penyimpanan filament, X2D menggunakan AMS 2 Pro yang bisa menampung empat filament sekaligus untuk mencetak berbagai warna dalam satu proses, dengan sistem tertutup plus fitur pengeringan filament. Fitur pengeringan ini sangat ideal untuk iklim Indonesia karena filament yang sudah lama bisa langsung dikeringkan tanpa perlu panik soal kelembapan.

Dual Nozzle dan Efisiensi Waktu Jadi Nilai Jual Utama

Bambu Lab X2D mencetak objek dengan struktur support
Bambu Lab X2D mencetak objek dengan struktur support

Nozzle kedua di X2D sebenarnya berfungsi sebagai auxiliary, bukan nozzle sekuat nozzle utama, dan tugasnya lebih ke mencetak material support. Saat mencetak objek yang butuh struktur penyangga karena bentuknya tinggi, bagian support yang dicetak nozzle auxiliary jauh lebih mudah dilepas dan tidak meninggalkan bekas menempel di permukaan utama, berbeda dengan kalau support dicetak pakai satu bahan yang sama dengan objek utamanya.

Soal efisiensi, area print yang lebih besar membuat objek yang sebelumnya harus dicetak beberapa kali karena tidak muat di satu plate, sekarang bisa selesai sekaligus dan lebih cepat, meski peningkatan kecepatannya sendiri tidak terlalu signifikan. Setelah sebulan memakai X2D, A1 Mini sebenarnya tidak lantas pensiun. Hampir semua yang dicetak bulan ini sebenarnya masih bisa dikerjakan di A1 Mini, tapi ujung-ujungnya tetap dicetak di X2D karena lebih cepat, tidak bau, dan kadang proses yang butuh dua sampai tiga kali jalan di A1 Mini cukup sekali saja di X2D. Dua printer ini pada akhirnya bukan saling bersaing, melainkan saling melengkapi.

Hidden Cost yang Jarang Dibahas Soal 3D Printer

Unit AMS 2s dengan beberapa gulungan filamen berwarna
Unit AMS 2s dengan beberapa gulungan filamen berwarna

Membeli printer ternyata hanya tiket masuk. Filament tetap dibutuhkan terus-menerus, dan kabar baiknya harga filament sekarang semakin terjangkau. Setahun lalu, filament first party Bambu Lab masih tergolong mahal sampai sekitar Rp200.000, sementara sekarang PLA atau PETG dari Bambu Lab bisa didapat di kisaran Rp150.000 sampai Rp170.000 di pasaran. Filament first party ini juga terlihat lebih rapi dari segi spool-nya dibanding merek lain.

Perlindungan tambahan juga perlu diperhitungkan, seperti silika gel untuk menyerap kelembapan yang bisa ditaruh dalam kotak cetakan sendiri dan dikombinasikan dengan hidrometer untuk memantau kelembapan. Selang PTFE juga dibutuhkan untuk membuat jalur custom dari filament ke dryer karena selang bawaan Bambu Lab cenderung pendek. Satu kejadian yang cukup mengejutkan adalah soal listrik, sekering rumah sempat jepret gara-gara X2D yang punya daya maksimal 1600 Watt saat memanaskan bed dan chamber, jauh berbeda dari A1 Mini yang maksimal hanya 120 Watt dan saat mencetak biasa hanya menarik sekitar 40-50 Watt. Printer sebesar ini sebaiknya memakai colokan sendiri, jangan dibarengi dengan AC atau heater.

Soal Keamanan Mencetak di dalam Rumah

Artikel soal emisi partikel dari printer 3D meski memakai PLA

Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah aman mencetak 3D di dalam rumah. Proses printing memang mengeluarkan partikel yang sangat halus serta uap kimia, termasuk dari bahan PLA sekalipun. Kabar baiknya, PLA jauh lebih ringan kadar kimianya dibanding ABS. Bahkan ada penelitian yang menemukan partikel dari ABS bisa puluhan kali lebih banyak dan lebih toksik dibanding PLA.

Meski memakai PLA relatif aman, tetap disarankan ada sirkulasi udara yang baik dan jangan duduk menempel di sebelah printer selama berjam-jam. Kalau ingin bermain dengan filament seperti ABS atau ASA, enclosure dengan filtrasi udara seperti yang dimiliki X2D jadi wajib, atau bisa juga menambah enclosure dan filter udara terpisah sesuai kebutuhan.

Cocok untuk Siapa dan Berapa Harganya

Harga Bambu Lab AMS lite sekitar Rp3,5 jutaan

Bambu Lab A1 Mini jadi starting point yang pas untuk orang yang penasaran dengan 3D printing dan ingin mulai dari sesuatu yang mudah serta relatif terjangkau, dengan harga sekitar Rp3,5 jutaan untuk versi tanpa AMS. Printer ini sudah cukup untuk mencetak mayoritas kebutuhan sehari-hari, dengan catatan tetap ada limitasi ukuran. Kalau dari awal sudah tahu akan sering mencetak barang besar, ada baiknya langsung mempertimbangkan A1 atau A2L yang bisa dipaketkan dengan AMS, karena membeli AMS terpisah justru lebih mahal.

Untuk yang sudah yakin dengan hobi mencetak barang besar dalam waktu lama, ingin bermain filament seperti ABS atau ASA, tinggal di tempat lembap, dan menginginkan hasil konsisten tanpa bau, Bambu Lab X2D jadi pilihan yang masuk akal meski harganya jauh lebih tinggi. Versi standar tanpa AMS dibanderol mulai sekitar Rp18 jutaan, sementara versi lengkap dengan AMS mencapai sekitar Rp25 jutaan. Ada juga seri P di tengah-tengah seperti P2S dengan harga sekitar Rp15 sampai 16 jutaan, tapi perbedaan fiturnya cukup terasa dibanding X2D sehingga kalau memang mampu, lebih baik langsung ke X2D.

Satu Alat yang Mengubah Cara Menyelesaikan Masalah Rumah

Bambu Lab A1 Mini dan X2D berdampingan sebagai dua printer yang saling melengkapi

Dari pengalaman memakai kedua printer ini, nilai sebenarnya dari 3D printing bukan terletak pada kemampuan mencetak segalanya, melainkan pada kenyamanan dan waktu yang dihemat saat sebuah masalah kecil di rumah akhirnya punya solusi yang benar-benar pas. Orang yang sama sekali tidak bisa desain pun tetap bisa menikmati manfaat ini berkat komunitas seperti Makerworld yang menyediakan ribuan desain siap pakai.

Yang paling penting dipahami adalah bahwa printer murah dan printer mahal bukan soal mana yang lebih unggul, melainkan soal kebutuhan mana yang memang harus dipenuhi, entah itu ukuran, jenis filament, atau kenyamanan tanpa bau dan kelembapan yang mengganggu hasil cetakan.

Comment

Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berbagi pendapat!
Iklan Faber-Castell
Iklan Pelago