Perjalanan Ganti Apple Watch Ultra ke Fitbit Ace dan Jam Analog

Perjalanan Ganti Apple Watch Ultra ke Fitbit Ace dan Jam Analog

Highlight

Bestindotech
  • Apple Watch Ultra generasi pertama dipakai sejak akhir 2022 dan setelah 3 tahun baterainya masih tahan sekitar 2 hari pemakaian normal.
  • Galaxy Watch 8 Classic sempat jadi pengganti karena bisa dipakai bayar lewat MyBCA Qris dan jadi kunci mobil BMW maupun BYD lewat Samsung Wallet.
  • Fitbit Ace akhirnya jadi pilihan karena baterainya tahan hingga 10 hari sekali cas dan hanya butuh sekitar satu jam untuk penuh kembali.
Slot tersediaPasang Iklan Brand Anda di SiniWhatsApp

Where to Buy

6 products

Bestindotech may earn a commission from these links, at no extra cost to you.

Ada titik tertentu ketika sebuah barang yang sudah dipakai bertahun-tahun mulai terasa seperti rutinitas, bukan lagi pengalaman baru. Bukan karena barangnya rusak atau jelek, tapi karena rasa penasaran untuk mencoba sesuatu yang lain lebih kuat dari rasa nyaman yang sudah ada. Situasi semacam ini yang akhirnya mendorong eksplorasi ke arah yang tidak terduga, termasuk soal sesuatu yang dipakai di pergelangan tangan setiap hari.

Selama kurang lebih tiga tahun terakhir, Apple Watch Ultra jadi smartwatch utama yang menemani aktivitas sehari-hari. Tapi rasa ingin tahu untuk mencoba ekosistem lain akhirnya membawa pada perjalanan panjang, mulai dari smartwatch berbasis Wear OS, sampai akhirnya berlabuh di sesuatu yang justru bukan smartwatch sama sekali.

Tiga Tahun Bersama Apple Watch Ultra

Bagian belakang Apple Watch Ultra dengan tulisan 49mm Titanium
Bagian belakang Apple Watch Ultra dengan tulisan 49mm Titanium

Apple Watch Ultra generasi pertama dibeli saat rilis akhir 2022, bersamaan dengan peluncuran iPhone 14 series. Waktu itu Apple pertama kali membawa ukuran besar 49mm dengan bodi titanium, kaca safir, dan baterai yang jadi salah satu yang paling awet di antara lini Apple Watch lainnya. Kesan pertama benar-benar kuat, sampai pada video review pun sempat muncul pengakuan jujur bahwa barang ini disukai secara personal meskipun sebenarnya tidak terlalu direkomendasikan karena harganya yang tergolong tinggi saat itu.

Setelah tiga tahun pemakaian tanpa case pelindung, kondisi fisiknya ternyata masih terjaga dengan baik. Ada bekas pemakaian di bodi karena sering terbentur, tapi tidak ada yang pecah atau gompal, dan kacanya pun masih mulus berkat material safir. Dari sisi performa dan baterai, perangkat ini masih terasa oke untuk pemakaian harian, dengan daya tahan baterai sekitar dua hari kalau sedikit dihemat seperti mematikan always on display dan tidak dipakai saat tidur.

Apple sempat merilis Ultra 2 dengan varian warna hitam, sempat dicoba juga, tapi akhirnya dijual lagi karena perbedaannya dirasa tidak signifikan dan warna titanium original tetap jadi favorit. Versi ketiga pun disebut tidak banyak berubah, dan kabarnya versi keempat yang akan datang di bulan September juga masih akan mempertahankan desain yang sama.

Alasan Pindah ke Galaxy Watch 8 Classic

Sisi Galaxy Watch Classic dengan rotating bezel fisik dan tombol
Sisi Galaxy Watch Classic dengan rotating bezel fisik dan tombol

Awal tahun ini jadi momentum untuk mencoba Samsung Galaxy Watch 8 Classic. Alasan utamanya adalah ingin merasakan desain bulat klasik dengan rotating bezel fisik yang jadi ciri khas lini Galaxy Watch Classic, sesuatu yang memang berbeda dari pengalaman memakai Apple Watch.

Ada juga alasan fungsional yang membuat perpindahan ini terasa masuk akal. Saat itu Wear OS jadi platform smartwatch pertama yang kompatibel dengan MyBCA Qris, sehingga pembayaran bisa langsung dilakukan dari jam tangan, sesuatu yang belum bisa dilakukan Apple Watch sampai sekarang karena baru sebatas scan QR. Samsung Wallet juga baru diresmikan dengan kemampuan menjadi kunci mobil untuk BMW dan BYD, boarding pass pesawat, hingga kartu kredit meski terbatas pada bank yang bekerja sama dengan Samsung seperti BRI.

Dari sisi fitur dasar, Galaxy Watch 8 Classic sebenarnya setara dengan Apple Watch, sama-sama bisa download lagu Spotify dan punya fitur olahraga lengkap. Yang membuat betah justru integrasi dengan Google Gemini, yang membuat akses ke asisten AI terasa lebih cepat tanpa perlu membuka HP, misalnya untuk mengatur smart home.

Masalah Charger yang Membuat Pusing

Galaxy Watch Classic saat diisi daya dengan dock charger alternatif

Setelah sekitar sebulan pemakaian, mulai muncul hal-hal yang membuat pengalaman memakai Galaxy Watch 8 Classic terasa kurang optimal, dan sebagian besar justru datang dari faktor eksternal seperti aksesoris. Dibandingkan Apple Watch yang punya banyak pilihan charger third party sehingga gampang dibawa untuk travel atau ditaruh di meja kerja, pilihan charger untuk Galaxy Watch jauh lebih minim dan bermasalah.

Ada pengalaman membeli charger alternatif berbasis USB Type-C yang ternyata tidak bisa mengisi daya lebih dari 80 persen. Ada juga model docking dengan desain cukup menarik dari merek yang cukup dikenal, tapi justru tidak bisa mengisi daya sama sekali dan malah membuat jam tangan jadi panas. Solusinya akhirnya dengan mencetak sendiri dudukan charger menggunakan 3D printing agar lebih mudah dibawa bepergian.

Masalah lain datang dari fitur Reverse Wireless Charging di HP Samsung yang dulunya bisa dipakai mengisi daya smartwatch, tapi ternyata sudah tidak kompatibel lagi sejak seri Watch 7. Meski fitur ini jarang dipakai, tetap terasa disayangkan ketika sewaktu-waktu dibutuhkan dalam kondisi darurat.

Strap yang Tidak Kompatibel Antar Generasi

Perbandingan strap Galaxy Watch8 dengan strap Galaxy Watch Ultra Gen1
Perbandingan strap Galaxy Watch8 dengan strap Galaxy Watch Ultra Gen1

Masalah aksesoris lain datang dari bagian strap. Strap besi yang dibeli khusus untuk Galaxy Watch Ultra generasi pertama ternyata tidak bisa dipakai di Watch 8 Series karena ada perubahan desain pada bagian adaptor konektor, meski alasannya katanya demi kenyamanan.

Hal ini terasa kontras dengan pengalaman memakai Apple Watch, di mana strap yang dibeli sejak generasi pertama sepuluh tahun lalu masih bisa dipakai sampai Apple Watch Ultra generasi terbaru, meski ukurannya sendiri sudah berbeda-beda seiring waktu. Alhasil harus mencari alternatif strap khusus yang kompatibel dengan Watch 8, meski sekarang pilihannya juga sudah mulai bertambah untuk Watch 9 terbaru.

Situasi ini akhirnya membuat pemakaian bergantian antara Apple Watch dan Galaxy Watch tergantung kebutuhan dan momen, sampai akhirnya tiba waktu untuk mengeksplorasi setup wearable yang benar-benar berbeda.

Kado Ulang Tahun yang Mengubah Arah Pencarian

Tampilan dekat jam tangan analog Seiko Presage Midnight Mockingbird
Tampilan dekat jam tangan analog Seiko Presage Midnight Mockingbird

Momentum berikutnya datang bersamaan dengan Bestindotech yang genap berusia satu dekade di akhir Juni. Kado dari istri berupa sebuah mechanical watch bernama Seiko Presage tipe Midnight Mockingbird dengan kode referensi SSA459 jadi titik balik yang tidak terduga. Dial berwarna hijau dengan efek shimmer elegan, ditambah histori dan cerita khas Jepang di balik jam ini, membuat jatuh cinta pada dunia Seiko.

Seiko Presage ini merupakan automatic watch yang juga bisa diisi dengan manual winding, artinya energi bisa terisi sendiri saat dipakai bergerak, atau bisa diputar manual agar terisi lebih cepat kalau jarang dipakai. Movement-nya menggunakan kode Seiko 4R57 dengan power reserve hingga 41 jam, menjadikannya jam yang fleksibel untuk dipakai dari kebutuhan kasual sehari-hari sampai acara yang lebih formal.

Bersamaan dengan datangnya jam analog ini, ada juga pre order Fitbit Ace yang sudah dipesan sejak akhir Juni dan tiba awal Juli, nyaris bersamaan waktunya. Kombinasi inilah yang akhirnya dipakai beberapa bulan terakhir, jam mekanikal di tangan kiri dan Fitbit Ace di tangan kanan.

Fitbit Ace yang Mengandalkan AI sebagai Pelatih Pribadi

Aplikasi Google Health di iPhone menampilkan fitur Ask Coach
Aplikasi Google Health di iPhone menampilkan fitur Ask Coach

Fitbit Ace jadi produk yang unik karena tidak punya layar sama sekali, fungsinya lebih mirip gelang biasa. Kombinasi dengan jam analog ternyata tidak terlihat aneh di tangan. Penggunaannya pun simpel, kompatibel dengan iOS dan Android lewat aplikasi Google Health yang jadi kunci utama dari seluruh pengalaman memakai perangkat ini.

Yang membedakan Fitbit Ace bukan sekadar data mentah seperti heart rate, kalori, atau jumlah langkah, melainkan adanya personal coach berbasis AI dari Google yang terasa cukup pintar dalam memberikan masukan. Pada tujuh hari pertama pemakaian dibutuhkan untuk membangun baseline data tubuh pengguna, setelah itu coach ini mulai memberi insight dan panduan terkait kondisi tubuh.

Sebagai contoh nyata, saat rutin bermain paddle, coach ini beberapa kali memberikan informasi soal cardio load dan intensitas latihan, lengkap dengan saran soal recovery agar tidak kelelahan atau cedera dan lebih siap untuk aktivitas keesokan harinya. Pengalaman ini terasa jauh lebih personal dibanding sekadar melihat angka statistik olahraga.

Ini jadi pembeda yang cukup jelas dibanding Apple Watch, yang meski bisa melacak data olahraga seperti heart rate dan kalori, tidak memberikan rangkuman atau insight lanjutan dari hasil latihan. Apple Watch bahkan kadang tidak mendeteksi otomatis saat sedang berolahraga, sehingga mode olahraga harus diaktifkan manual, dan ini sering terlewat karena keasyikan beraktivitas, meski untuk beberapa jenis olahraga tertentu deteksi otomatis memang sudah berjalan.

Baterai Awet dan Strap yang Masih Terbatas

Aplikasi Fitbit di ponsel menampilkan status baterai 19%
Aplikasi Fitbit di ponsel menampilkan status baterai 19%

Dari sisi aksesoris, pilihan strap untuk Fitbit Ace memang masih terbatas saat baru dirilis. Solusinya adalah mencoba strap dari Whoop yang dibuat kompatibel lewat adaptor hasil 3D printing buatan sendiri. Strap ini nyaman dipakai untuk aktivitas harian, meski kurang nyaman saat dipakai tidur, sehingga strap bawaan tetap jadi pilihan utama untuk tidur. Meski begitu, pelacakan tidur sendiri lebih banyak diandalkan lewat Ultra Human Ring Air yang datanya bisa sinkron dengan Google Health maupun Apple Health. Sekarang pilihan strap pihak ketiga untuk Fitbit Ace sudah mulai tersedia di marketplace.

Untuk charger, solusinya kembali dengan mencetak case berbasis 3D printing agar lebih mudah dibawa bepergian. Soal baterai, Fitbit Ace terbukti sangat awet dengan daya tahan hingga 10 hari dalam sekali pengisian, dan proses cas pun cepat, hanya butuh sekitar satu jam untuk penuh. Bahkan ketika baterai tersisa kurang dari 24 jam, aplikasi akan memberi notifikasi untuk menaruh di dock selama 15 menit saja, cukup untuk menutupi kebutuhan tiga sampai empat hari ke depan.

Kekurangan yang terasa dari Fitbit Ace sebenarnya bukan soal teknologi, melainkan ketiadaan layar. Apple Watch misalnya bisa memberi reminder untuk berdiri kalau terlalu lama duduk, sementara Fitbit Ace hanya bisa memberi getaran alarm di tangan tanpa detail visual tambahan.

Titik Akhir dari Pencarian yang Panjang

Tampilan dekat tali jam Fitbit Air berwarna hijau yang diletakkan di atas dudukan
Tampilan dekat tali jam Fitbit Air berwarna hijau yang diletakkan di atas dudukan

Kombinasi jam analog Seiko Presage dan Fitbit Ace akhirnya jadi solusi yang paling pas untuk saat ini, setelah melalui proses panjang dari Apple Watch Ultra ke Galaxy Watch 8 Classic. Pencarian ini belum tentu berhenti di sini, karena masih ada smartwatch lain berbasis aktivitas berat seperti Garmin atau Suunto yang belum dicoba, mengingat kebutuhan sehari-hari memang belum mengarah ke aktivitas seperti lari jarak jauh, bersepeda, atau hyrox.

Yang paling menarik dari seluruh perjalanan ini adalah kesadaran bahwa solusi terbaik tidak selalu datang dari perangkat yang paling canggih atau paling banyak fiturnya, tapi dari kombinasi yang benar-benar pas dengan gaya hidup dan kebutuhan personal. Terkadang jawaban atas rasa bosan pada teknologi justru ditemukan di sesuatu yang jauh lebih sederhana, bahkan di sebuah jam tangan mekanikal yang tidak butuh baterai sama sekali.

Comment

Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berbagi pendapat!