3 Hari Pakai Samsung Galaxy Z Fold 8: Enak tapi Ada Catatannya

3 Hari Pakai Samsung Galaxy Z Fold 8: Enak tapi Ada Catatannya

Highlight

Bestindotech
  • Setelah 3 hari jadi daily driver, bentuk compact Z Fold 8 terasa enak, tapi keyboard dan sosmed butuh adaptasi.
  • Layar dalam punya anti-reflective coating yang sangat membantu di kondisi outdoor terang, walau speaker jadi mono.
  • Screen on time sekitar 6 jam dengan 5G penuh, dan ada multitasking tiga aplikasi geser yang absen di versi Ultra.

Where to Buy

1 product

Bestindotech may earn a commission from these links, at no extra cost to you.

Kesan pertama dari sebuah HP lipat sering berbeda dengan pengalaman memakainya secara nyata sehari-hari. Untuk membuktikannya, Samsung Galaxy Z Fold 8 reguler dipakai penuh sebagai daily driver selama kurang lebih tiga hari, dengan seluruh setup dipindahkan dari HP lipat lama. Uji coba ini berlangsung di tengah kesibukan sebuah acara di London, sehingga penggunaannya benar-benar intens dari pagi sampai malam.

Hasilnya adalah gambaran yang jujur soal plus dan minus perangkat ini, termasuk hal-hal yang bisa jadi pertimbangan sebelum memutuskan pre-order HP lipat compact yang satu ini. Berikut catatan lengkapnya, mulai dari penggunaan aplikasi, layar, kamera, sampai baterai dan performa.

Aplikasi Chat dan Media Sosial yang Butuh Adaptasi

Tampilan video di Instagram dengan black bar di layar depan Samsung Galaxy Z Fold 8

Hal yang paling banyak ditanyakan adalah penggunaan aplikasi di layar depan yang kini lebih compact. Saat mengetik di aplikasi chat seperti WhatsApp, setengah dari layar langsung terisi keyboard, sehingga untuk menggulir ke atas dan membaca chat lama perlu menurunkan keyboard lebih dulu lewat tombol di kanan bawah. Kebiasaan naik turun ini membutuhkan penyesuaian, karena pada HP lipat memanjang sebelumnya area chat yang terlihat lebih panjang.

Pola serupa muncul di media sosial. Di TikTok, bar bawah menyatu dengan video sehingga muncul black bar di kiri dan kanan meski videonya tetap utuh. Yang paling perlu diperhatikan ada di Instagram Story, karena tampilannya terpotong di kiri dan kanan, dan saat memposting, bagian bawah bisa tertutup tulisan story serta close friend. Karena itu, aplikasi yang banyak mengandalkan chat, keyboard, dan posting media sosial adalah yang paling terasa perlu penyesuaian, sementara membuka Maps, YouTube, dan Netflix justru terasa luas dan nyaman.

Layar Dalam yang Nyaman untuk Multimedia dan Baca Majalah

Membaca majalah T3 di layar dalam Samsung Galaxy Z Fold 8

Layar dalam memang paling cocok untuk konsumsi multimedia. Intinya dibuat landscape sehingga menonton YouTube terasa luas dan terang. Namun ada satu catatan soal speaker, karena posisinya hanya di dua sisi, saat dibuka landscape suara hanya keluar dari sisi kiri sehingga tidak stereo. Butuh waktu untuk terbiasa, dan pada akhirnya muncul kecenderungan untuk lebih sering menonton di layar depan dengan mode tenda saat dilipat.

Sisi yang paling disukai dari layar dalam adalah anti-reflective coating-nya. Di kondisi terang, layar ini meredam pantulan jauh lebih baik dibanding layar depan, dan perbedaannya terlihat jelas. Fitur yang sebelumnya ada di seri S dan iPhone ini kini masuk ke Fold, dan sangat membantu saat berada di luar ruangan yang terik. Penggunaan favorit lainnya adalah membaca majalah, seperti majalah teknologi T3 asal Inggris, yang tampil hampir penuh, bahkan bisa menampilkan dua halaman saat diputar berdiri, menjadikannya terasa seperti mini tablet dengan bentuk yang sangat compact.

Kamera 50MP yang Bagus dengan Absennya Telephoto

Setelah tiga hari, hal yang terasa disayangkan adalah tidak adanya kamera telephoto. Meski begitu, hasil foto selama berkeliling London tergolong bagus untuk standar kamera HP Samsung, dengan dua kamera 50MP di main camera dan ultrawide. Lensa ultrawide 50MP ini sama dengan yang ada di Z Fold 8 Ultra, naik dari Z Fold 7 yang masih 12MP.

Mode portrait cukup sering dipakai, meski maksimalnya hanya di 2x, berbeda dari Z Fold 8 Ultra dan Z Fold 7 yang bisa sampai 4x berkat lensa telephoto. Kabar baiknya, ada fitur baru berupa preset di mode portrait, mirip yang ada di HP Ultra seperti Vivo dan Xiaomi, yang kini juga hadir di Z Fold 8 dan Z Fold 8 Ultra. Preset ini bisa dibuat sendiri dengan mudah, bahkan bisa diambil dari HP lain, dan salah satu preset yang sempat dicoba berasal dari Fahmi di kanal Droidlime.

Fitur Kamera Baru dari My Fan Cam sampai Mode Lock

Fitur My Fan Cam pada Samsung Galaxy Z Fold8

Dari sisi perangkat lunak, ada fitur baru bernama My Fan Cam di Galaxy AI. Fitur ini memungkinkan memilih orang tertentu dalam frame, lalu sistem otomatis menghasilkan clip yang mengikuti pergerakan orang tersebut, bahkan saat sempat tertutup orang lain. Fitur ini memudahkan pengambilan video saat merekam konser atau anak-anak, karena cukup merekam secara horizontal tanpa perlu mengedit lagi. Kemampuan serupa sebelumnya butuh aplikasi tambahan, tapi kini sudah terintegrasi langsung di Z Fold 8 dan 8 Ultra.

Di mode video, ada juga mode Lock yang memungkinkan memakai kamera belakang sebagai kamera selfie dengan preview di cover screen, sehingga perekaman bisa dilakukan sambil mengecek hasil dengan kualitas lebih baik. Satu catatan soal kamera, tampilan di layar depan terasa lebih penuh, sedangkan di layar dalam terlihat kosong di kiri dan kanan karena sensor kameranya membentuk rasio 4 banding 3. Memenuhkan tampilan di layar dalam berarti melakukan crop, sehingga idealnya memotret langsung dari layar depan agar penuh sampai bawah.

Baterai dan Performa Selama Pemakaian Intens

Statistik penggunaan baterai Samsung Galaxy Z Fold8

Karena banyaknya aktivitas selama acara, HP ini dipakai terus-menerus. Untuk screen on time, tercatat sekitar 6 jam dari kondisi penuh 100 persen, dengan koneksi 5G menyala terus. Konsekuensinya, pengisian ulang perlu dilakukan setiap sekitar pukul lima atau enam sore saat baterai mulai menipis. Untungnya, pengisian dayanya cukup cepat karena sudah mendukung 45 Watt Super Fast Charging 2.0. Angka baterai ini kemungkinan berbeda saat diuji di Indonesia, mengingat pola penggunaan yang bisa berbeda.

Untuk performa harian, tidak ada keluhan berarti. Yang menarik justru ada pada multitasking unik yang tidak bisa dilakukan di versi Ultra maupun Z Fold 7, yaitu kemampuan membuka tiga aplikasi sekaligus secara side by side yang bisa digeser-geser, mirip implementasi Oppo pada HP lipat mereka sebelumnya. Menariknya, fitur ini justru hanya ada di Z Fold 8 reguler yang lebar dan tidak tersedia di Z Fold 8 Ultra, kemungkinan karena faktor layarnya yang full landscape lebar. Sebagai catatan, pengujian benchmark tidak bisa dilakukan karena unit ini merupakan unit testing global, meski hasilnya kemungkinan tidak jadi masalah mengingat chipset-nya sudah tergolong paling tinggi.

Impresi Positif dengan Beberapa Catatan Kecil

Tampilan keyboard WhatsApp yang memenuhi setengah layar depan Samsung Galaxy Z Fold8

Setelah tiga hari, kesan terhadap Z Fold 8 terasa sangat positif. Memegang dan memakainya ternyata menyenangkan, dengan form factor yang punya intention jelas sebagai HP lipat yang fungsinya masuk akal. Software Samsung pun sudah tidak perlu diragukan lagi, membuat pengalaman keseluruhannya terasa mulus.

Tetap ada beberapa catatan kecil, mulai dari keyboard di aplikasi chat yang butuh penyesuaian, speaker yang hanya keluar dari sisi kiri saat layar dibuka landscape, sampai baterai yang masih terasa kurang untuk pemakaian penuh seharian, sebagian karena One UI yang juga menyumbang konsumsi daya. Meski begitu, impresi awal tetap sangat positif, dan pengujian lebih lengkap dengan unit retail Indonesia akan menyusul untuk melihat apakah pengalaman ini bertahan dalam pemakaian jangka panjang.

Comment

Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berbagi pendapat!