Unboxing Steam Machine Valve: Konsol PC Mungil buat Living Room

Unboxing Steam Machine Valve: Konsol PC Mungil buat Living Room

Highlight

Bestindotech
  • Unit Steam Machine 512GB base model tanpa controller ini dibeli dengan harga jauh di atas SRP, bahkan ada yang dimarkup sampai 60 juta rupiah.
  • Bodinya jauh lebih kecil dari PS5, bahkan dibandingkan side by side ukurannya cuma sekitar setengah dari konsol Sony itu.
  • Storage internal bawaan cuma 512GB dengan RAM 16GB single channel, tapi keduanya bisa diupgrade meski proses bongkarnya cukup rumit.

Where to Buy

2 products

Bestindotech may earn a commission from these links, at no extra cost to you.

Ada barang yang susah dicari bukan karena sedikit yang mau, tapi karena memang sengaja dibatasi ketersediaannya. Situasi seperti ini biasanya berujung pada harga pasar yang meledak jauh dari harga resminya, dan pembeli yang benar-benar penasaran akhirnya harus rela membayar lebih demi bisa mencobanya lebih dulu.

Steam Machine dari Valve masuk ke kategori itu. Perangkat ini sempat jadi bahan konten alternatif karena susah didapat, dan sekarang unitnya benar-benar sudah di tangan untuk dibongkar isinya, dites, sampai dipasang langsung di living room.

Harga yang Digoreng Jauh di atas SRP

Steam Machine Valve dengan desain kotak mungil
Steam Machine Valve dengan desain kotak mungil

Steam Machine memang tidak dijual resmi di Indonesia. Yang bisa membeli langsung dari Valve dan Steam hanyalah yang mendapat undangan, sehingga penjual yang menjualnya di sini pun harus membeli dulu dari luar negeri lengkap dengan markup tambahan. Hasilnya, ada yang menjual sampai 60 juta rupiah, dua kali lipat lebih mahal dari harga aslinya.

Unit yang dibeli kali ini adalah varian paling basic, base model 512GB tanpa controller. Harganya disebut masih cukup reasonable dibanding harga pasar gelap yang lain, meski tetap jauh di atas SRP resminya. Steam Machine sendiri adalah PC gaming berbentuk mirip konsol yang bisa ditaruh di ruang tamu, dengan klaim bisa main sampai 4K meski ekspektasi realistisnya lebih cocok di kisaran 2K.

Kotak Kemasan yang Dirancang Serius

Kotak kemasan Steam Machine dengan struktur berlapis dan kabel

Kemasan Steam Machine punya gaya buka yang unik, ditarik ke atas seperti kotak akordion yang bertumpuk. Di dalamnya ada kabel dengan colokan tipe EU khas Eropa, sebuah kabel HDMI yang terasa cukup tebal, dan struktur dalam kotak yang berlapis-lapis untuk meredam guncangan selama pengiriman.

Detail kecil semacam ini menunjukkan bahwa desain kemasannya bukan sekadar kardus biasa. Semua bagian tersusun rapi seperti puzzle, dan proses membongkarnya sendiri terasa seperti membuka sebuah objek yang memang dirancang untuk memberi kesan pertama yang kuat sebelum melihat unitnya sendiri.

Gabe Cube yang Ternyata Sekecil Ini

Menjelajahi port konektivitas yang tersedia di bagian depan perangkat
Menjelajahi port konektivitas yang tersedia di bagian depan perangkat

Bentuk fisik Steam Machine benar-benar kecil, sampai dijuluki Gabe Cube karena desain kotaknya yang mengingatkan pada sosok Gabe Newell, pendiri Valve. Untuk mengukur seberapa kecil, perbandingan langsung dilakukan dengan PS5 lama alias versi fat, dan hasilnya cukup mengejutkan. Dari depan memang tidak terlalu terlihat perbedaannya, tapi begitu dilihat dari samping, ukuran Steam Machine cuma sekitar setengah dari tinggi PS5.

Ukuran sekecil ini jelas bukan tanpa konsekuensi. Membuat PC sekompak ini butuh banyak kompromi, terutama dari sisi power dan ukuran GPU yang otomatis lebih terbatas dibanding PC desktop biasa. Tapi itulah yang memang jadi tujuan utamanya, yaitu bentuk yang bisa nyaman duduk di rak TV ruang tamu tanpa terlihat mencolok seperti PC gaming pada umumnya.

Port dan Faceplate yang Bisa Diganti-Ganti

Faceplate Steam Machine yang bisa dilepas dengan mudah

Di bagian depan, Steam Machine punya dua port USB yang bisa dipakai untuk menyambungkan controller atau perangkat USB lain, ditambah slot microSD yang mendukung transfer game langsung dari Steam Deck. Ada juga tombol power di sisi yang sama. Bagian depan ini punya face plate yang bisa dilepas dan diganti dengan desain lain, bahkan bisa dicetak sendiri lewat 3D printing.

Di bagian belakang, port yang tersedia jauh lebih lengkap, mulai dari display port, HDMI, port untuk power adapter, USB-C, sampai dua buah USB-A tambahan. Port USB yang cukup banyak ini berguna bukan cuma untuk controller, tapi juga untuk menambah storage eksternal lewat SSD, mengingat kapasitas storage internal bawaannya cukup terbatas. Bagi yang butuh ruang lebih besar, tersedia varian 2TB yang bahkan menyertakan bonus dua face plate tambahan dengan desain kayu dan motif warna khas Valve.

Sistem Pendingin yang Menarik untuk Dibedah

Bagian belakang Steam Machine dengan kipas besar dan port lengkap

Di bagian belakang unit ada dua baut yang bisa dibuka menggunakan obeng bintang lima, yang uniknya menyatu dengan kaki karet unit sehingga tidak akan hilang saat dilepas. Setelah bagian belakang diangkat, terlihat sistem pendinginnya hanya mengandalkan satu kipas besar yang dipasangkan dengan heatsink berukuran besar pula.

Aliran udaranya didesain masuk dari dua arah, yaitu dari depan dan dari bawah unit, lalu dibuang melalui kipas di belakang. Desain semacam ini menunjukkan bahwa meski komponen di dalamnya terlihat kosong dan minimalis, perhitungan thermal-nya tetap dipikirkan matang supaya suhu perangkat tetap terkendali meski bodinya sekecil ini.

Dua Antena untuk Wi-Fi dan Steam Controller

Antena internal Steam Machine untuk konektivitas nirkabel
Antena internal Steam Machine untuk konektivitas nirkabel

Bagian dalam unit juga memperlihatkan dua antena berbeda fungsi. Satu antena khusus untuk menangkap sinyal dari Steam Controller, sehingga saat memakai Steam Machine bersama Steam Controller, dongle puck tambahan tidak lagi diperlukan karena sudah didukung secara native. Antena satunya lagi berfungsi sebagai penerima sinyal Wi-Fi.

Dongle puck yang biasanya dipakai Steam Controller di perangkat lain jadi bisa dialihkan untuk PC atau konsol game lain yang membutuhkan. Ini artinya pengguna yang sudah punya ekosistem Steam Controller sebelumnya bisa lebih fleksibel mengatur perangkat mana yang memakai koneksi wireless langsung dan mana yang tetap pakai dongle.

Storage dan RAM yang Bisa Diupgrade

Modul SSD 512GB internal Steam Machine yang bisa diupgrade
Modul SSD 512GB internal Steam Machine yang bisa diupgrade

Di bagian bawah unit terdapat slot SSD berkapasitas 512GB, yang menariknya diproduksi di Malaysia dan punya bentuk sama seperti SSD yang dipakai Steam Deck. Kapasitas ini nantinya berencana diupgrade ke versi yang lebih besar karena memang mendukung penggantian SSD.

Selain storage, RAM 16GB bawaan yang berjalan dalam mode single channel sebenarnya juga bisa diupgrade menjadi dual channel, meski proses bongkarnya jauh lebih rumit. Alasan Valve memilih konfigurasi single channel ada penjelasannya sendiri. Berdasarkan pengujian GamersNexus, mode dual channel memang mempercepat proses ekstraksi 7-Zip sampai 20% untuk beban kerja CPU, tapi untuk performa gaming yang lebih bergantung pada GPU, perbedaannya cuma sekitar 5 sampai 6%, tidak sampai 10%. Artinya, untuk pengguna yang lebih banyak memakai Steam Machine sebagai PC gaming biasa, upgrade RAM ini tidak akan terasa signifikan, kecuali memang dipakai juga sebagai komputer untuk kerja berat.

Setup Steam Controller yang Perlu Kabel Dulu

Proses pairing awal Steam Controller memakai kabel USB

Saat pertama kali dinyalakan, Steam Machine langsung menampilkan lampu indikator yang menandakan unit menyala normal. Untuk menyambungkan Steam Controller, proses pairing awal ternyata mengharuskan koneksi kabel USB terlebih dahulu, lengkap dengan proses update firmware untuk adapter internal controller-nya.

Setelah proses update selesai, barulah kabel bisa dilepas dan controller bisa dipakai secara wireless seperti biasa. Untuk merapikan kabel yang menonjol, dipasang dock 3D print custom yang membuat colokan USB tersembunyi rapi di bagian bawah unit, sehingga tampilan akhirnya tetap terlihat bersih tanpa kabel berantakan.

Muat Rapi di Rak Bersama Apple TV

Steam Machine Valve di rak TV dengan Nintendo Switch

Setelah proses setup selesai, unit langsung dipasang di rumah untuk diuji di lokasi yang memang direncanakan sejak awal, yaitu rak TV di ruang tamu yang sudah berisi Nintendo Switch generasi pertama dan kedua serta Apple TV. Ternyata ukuran Steam Machine pas banget diletakkan bersebelahan dengan perangkat-perangkat itu, seolah memang didesain khusus untuk mengisi ruang kosong di rak tersebut.

Momen ini jadi konfirmasi langsung dari alasan awal kenapa perangkat ini begitu dinantikan. Bentuknya yang kompak bukan sekadar gimmick desain, tapi benar-benar berfungsi untuk menyatu dengan setup home hiburan yang sudah ada tanpa perlu menambah rak atau ruang baru.

Alasan Utama di Balik Rasa Penasaran yang Terbayar

Tampilan gameplay Cyberpunk 2077 di layar televisi

Kesan pertama dari unboxing dan pemasangan awal Steam Machine ini terasa memuaskan, terutama karena akhirnya bisa punya PC gaming yang benar-benar menyatu di ruang tamu. Untuk game seperti Cyberpunk yang sudah dimiliki di Steam, keberadaan Steam Machine membuat tidak perlu membeli ulang game yang sama di platform lain seperti Nintendo, yang harganya jauh lebih mahal. Nintendo Switch pun tetap bisa dijaga sebagai koleksi eksklusif untuk game-game first party-nya saja.

Ke depannya, ada rencana untuk menginstal emulator dan mencoba game-game yang bisa dimainkan bersama keluarga, termasuk game indie di Steam yang cocok untuk main bareng. Yang jadi ganjalan utama tetap soal harga, mengingat status resminya yang belum masuk Indonesia membuat harga pasarnya masih jauh di atas SRP.

Pada akhirnya, nilai sebenarnya dari Steam Machine bukan cuma soal seberapa kencang spesifikasinya di atas kertas, melainkan seberapa pas ia menyatu dengan kebiasaan main game sehari-hari di ruang tamu, sesuatu yang justru baru terasa nyata setelah unit ini benar-benar duduk di rak bersama Nintendo Switch dan Apple TV.

Comment

Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berbagi pendapat!