Rakit Steam Machine Sendiri: Lebih Murah dan Lebih Kencang dari Valve

Rakit Steam Machine Sendiri: Lebih Murah dan Lebih Kencang dari Valve

Highlight

Bestindotech
  • Build PC ala Steam Machine ini menghabiskan sekitar 15 juta rupiah bekas, atau 16,5 juta jika dihitung harga baru tanpa SSD.
  • GPU PowerColor 9060 XT dengan VRAM 16GB terbukti lebih kencang dari GPU Steam Machine maupun PS5 Pro berdasarkan angka teraflops.
  • Di Cyberpunk 2077 resolusi 1440p, build ini mencatat rata-rata 115 fps, sementara Forza Horizon 5 dan Wukong stabil di kisaran 64-65 fps.

Where to Buy

6 products

Bestindotech may earn a commission from these links, at no extra cost to you.

Harga hardware yang terus naik membuat siapa pun yang ingin membangun sistem gaming baru harus berpikir dua kali. Di tengah situasi itu, produk konsol niche dengan availability terbatas dan harga premium jelas bukan pilihan yang masuk akal untuk kebanyakan orang, apalagi kalau di pasar lokal harganya ikut digoreng karena tidak dijual resmi.

Steam Machine dari Valve adalah salah satu contohnya. Konsol ini merupakan versi lebih powerful dari Steam Deck, tapi ketersediaannya sangat terbatas karena hanya yang di-invite yang bisa membeli, dan harganya tergolong tinggi untuk spek yang ditawarkan. Daripada menunggu kesempatan membeli unit resmi, opsi merakit Steam Machine sendiri dengan komponen yang masih tersedia di pasaran ternyata lebih masuk akal, baik dari sisi harga maupun performa.

Kenapa SteamOS Jadi Kunci Utama Build Ini

Informasi sistem SteamOS dengan hostname steamdeck
Informasi sistem SteamOS dengan hostname steamdeck

Sebelum membahas hardware, hal paling penting dari proyek ini adalah SteamOS. Ini adalah sistem operasi berbasis Linux yang bagi sebagian orang mungkin terdengar asing atau merepotkan, padahal instalasinya sekarang benar-benar simpel. Dengan menginstal SteamOS di PC, perangkat bisa langsung terasa seperti konsol, tapi tetap bisa dipakai sebagai PC desktop biasa kalau diperlukan untuk kerja.

Valve sudah membuka akses download SteamOS langsung dari websitenya, dengan ukuran file sekitar 3GB lebih. Prosesnya tinggal membuat bootable USB memakai aplikasi seperti Ventoy, Rufus, atau Balena Etcher, lalu boot ke BIOS dan install dari sana. Satu syarat utama yang wajib dipenuhi adalah menggunakan GPU AMD, karena Nvidia masih sama sekali tidak didukung, sementara Intel katanya baru bisa dipakai belakangan ini.

Setelah instalasi selesai, tampilan langsung masuk ke gaming mode ala Steam Machine, mirip Big Picture Mode di Windows tapi bedanya ini bukan sekadar aplikasi, melainkan seluruh UI dan OS. Fitur sleep dan wake yang cepat ala konsol jadi salah satu keunggulan paling terasa dibanding Windows PC yang kadang lambat, kadang blue screen, kadang crash.

Fitur Konsol yang Membuat Betah

Antarmuka SteamOS dengan daftar game dan event
Antarmuka SteamOS dengan daftar game dan event

Salah satu fitur menarik di SteamOS adalah dukungan HDMI CEC, yang memungkinkan TV ikut menyala otomatis lewat controller, persis seperti pengalaman menyalakan konsol PlayStation. Fitur ini butuh satu adapter tambahan yang nanti dibahas di bagian aksesoris.

Selain itu, SteamOS juga ringan dari sisi resource sehingga PC dengan spek dasar pun bisa mencobanya, minim bloatware, dan punya shader caching yang membuat sistem tidak terbebani karena shader sudah dirender lebih dulu dan disimpan. Kustomisasinya juga simpel dengan banyak pilihan tambahan lewat Decky Loader, sesuatu yang sudah familiar bagi pengguna Steam Deck.

Motherboard MOBO Jadi Penghemat Terbesar

Motherboard Mobile on Desktop (MoDT) yang ringkas di tangan
Motherboard Mobile on Desktop (MoDT) yang ringkas di tangan

Hardware yang dipakai di build ini sebenarnya dibeli bekas dengan harga yang dirasa sangat oke. Ketertarikan awalnya justru dari desain, saat menemukan unit ini dijual dengan judul Steam Machine dari platform belanja Timu, yang terkenal menjual barang KW di Amerika Serikat. Bentuknya yang kotak memang mengingatkan pada Steam Machine asli.

Komponen paling menarik dan menjadi kunci penghematan biaya adalah motherboard. Motherboard ini adalah satu paket dengan prosesor, walau prosesornya sebenarnya adalah prosesor laptop atau mobile, dengan terminologi Mobile on Desktop Motherboard (MODT). Brand-nya Topsy B760 ITX dengan chip i9-12900H, 14 core, 20 thread, kecepatan hingga 5GHz, dengan harga sekitar 2,9 jutaan.

Angka ini penting karena sebagai perbandingan, motherboard ITX dengan prosesor desktop setara yang dibeli terpisah bisa mencapai harga 4 jutaan, belum termasuk RAM. Motherboard ini memakai DDR4 dan sudah mendapat RAM 32GB berkecepatan 2666MHz, meski sebenarnya 16GB saja sudah cukup aman asal dua keping untuk dual channel. RAM 32GB di pasaran saat ini berkisar 3 jutaan, jadi paket motherboard dan RAM ini jelas jadi penghemat terbesar dalam build.

Cooler dan PSU yang Sudah Di-upgrade Pemilik Sebelumnya

Cooler Thermalright Phantom Spirit dengan PSU InWin CS 700W di dalam case
Cooler Thermalright Phantom Spirit dengan PSU InWin CS 700W di dalam case

Komponen pendingin memakai Thermalright Phantom Spirit, cooler tower besar dengan dual fan Arctic P12 Pro yang performanya disebut mirip Noctua tapi harganya jauh lebih terjangkau, sekitar 80 ribuan per kipas. Semua kipas ini sudah di-upgrade oleh pemilik sebelumnya.

Untuk power supply, unit ini memakai InWin 700W Gold, dengan mounting yang sudah diubah posisinya dan kabel yang dipendekkan agar setup lebih rapi. Penyesuaian ini penting karena secara desain asli, case yang dipakai sebenarnya tidak didukung untuk cooler tower sebesar ini. Meski begitu, ukuran tower yang besar ini sebenarnya agak berlebihan untuk mendinginkan chip semacam ini, tapi hasilnya jadi tidak terlalu berisik.

Case Lawas yang Tetap Relevan

Case Silverstone Sugo SG13 berwarna hitam
Case Silverstone Sugo SG13 berwarna hitam

Case yang dipakai adalah Silverstone Sugo SG13, case ITX yang sudah cukup jadul karena rilis tahun 2015, artinya sudah lebih dari satu dekade. Harganya tergolong terjangkau, sekitar 650 ribuan, dengan bentuk kotak yang ala-ala Steam Machine meski lebih lebar dan lebih panjang, dengan volume sekitar 11,6 liter.

Case ini sudah dikustom sedikit oleh pemilik sebelumnya, terutama di bagian depan dan belakang, untuk menyesuaikan dengan komponen internal yang dipasang. Pemilihan case lawas ini menunjukkan bahwa untuk membangun estetika ala konsol, tidak selalu perlu case baru yang mahal, asal ukuran dan bentuknya sesuai kebutuhan.

GPU AMD Jadi Syarat Wajib untuk SteamOS

GPU PowerColor Reaper AMD Radeon RX 9060 XT 16GB
GPU PowerColor Reaper AMD Radeon RX 9060 XT 16GB

Komponen terakhir yang wajib ditambahkan adalah GPU, dan karena syarat SteamOS mengharuskan AMD, pilihan jatuh ke PowerColor 9060 XT. Sayangnya harga GPU sempat naik, tapi pembelian dilakukan sebelum kenaikan tersebut terjadi.

Secara spek, 9060 XT ini disebut lebih kencang dibanding GPU yang dipakai Steam Machine, bahkan dibanding PS5 Pro dari sisi teraflops. VRAM-nya juga besar, 16GB, cukup aman untuk gaming di resolusi tinggi 4K, yang relevan karena PC ini akan dicolokkan ke TV yang rata-rata sekarang sudah beresolusi 4K. GPU ini juga jadi salah satu varian 9060 XT dengan ukuran paling kecil di antara varian lainnya, membuka kemungkinan untuk custom case 3D print yang lebih ringkas ke depannya.

Total Biaya yang Setara Steam Machine Resmi

Daftar komponen PC dengan total biaya Rp 16.278.000
Daftar komponen PC dengan total biaya Rp 16.278.000

Secara total, build ini dibeli bekas di angka tidak sampai 15 juta rupiah. Jika dihitung dengan harga baru, totalnya sekitar 16,5 jutaan, itu pun belum termasuk SSD karena unit yang dipakai memanfaatkan SSD yang sudah ada sebelumnya. Kalau harus mencari kapasitas setara Steam Machine 512GB di pasaran, tambahan biayanya sekitar 1 hingga 1,5 juta rupiah.

Dengan tambahan itu, total build dengan harga baru menjadi sekitar 18 juta rupiah, angka yang sama persis dengan harga retail resmi Steam Machine tanpa markup harga di pasar lokal. Bedanya, dari sisi performa, build rakitan ini jelas lebih kencang berkat GPU yang lebih superior.

Hasil Benchmark yang Mengalahkan Steam Machine

Tabel perbandingan hasil benchmark game Steam Machine dengan Bit Steam Machine
Tabel perbandingan hasil benchmark game Steam Machine dengan Bit Steam Machine

Pengujian dilakukan di beberapa game berat. Di Cyberpunk 2077 resolusi 1440p dengan settingan FPS performance dan grafis high, rata-rata frame rate yang didapat adalah 115 fps, dengan gameplay in-game stabil di kisaran 70 hingga 80 fps. Forza Horizon 5 di resolusi dan settingan serupa dengan FSR performance Ultra menghasilkan rata-rata 64 fps dan tetap stabil di 65 fps saat dimainkan. Sementara Wukong di resolusi 2K dengan settingan Cinematic tertinggi dan FSR 3 mencatat 65 fps.

Sebagai pembanding, hasil benchmark Steam Machine resmi yang ditemukan secara online menunjukkan GPU 9060 XT di build ini memang lebih kencang dibanding GPU bawaan Steam Machine dari Valve. Artinya, secara pengalaman bermain, build rakitan ini tidak kalah, bahkan unggul dari produk resmi yang jadi inspirasinya, meski dengan total biaya yang setara.

Adapter HDMI Jadi Satu-satunya Kerumitan

Adapter Hagibis 8K/60Hz

Sweet spot dari build ini tetap di resolusi 1440p untuk game AAA yang berat, dan karena dimainkan di TV dari jarak sofa yang cukup jauh, resolusi 1440p sebenarnya tidak terlalu berbeda secara visual dibanding 4K. Namun ada satu tantangan teknis yang muncul dari fitur HDMI CEC.

Masalahnya, fitur CEC pada GPU discrete seperti 9060 XT atau Nvidia sebenarnya hanya tersedia lewat Display Port, bukan HDMI langsung. Solusinya adalah membeli adapter HDMI ke DP, dan proses mencari adapter yang benar-benar berfungsi ternyata butuh beberapa kali percobaan, mulai dari yang harganya 200 ribu, 350 ribu, sampai 500 ribuan.

Adapter termurah dari Hagibis seharga sekitar 200 ribuan ternyata berhasil, meski dengan sedikit catatan. Saat dipakai dalam mode 4K 120Hz di TV Sony, muncul glitch yang cukup sering, kemungkinan karena masalah bandwidth. Setelah diturunkan ke 4K60, hasilnya jauh lebih stabil meski masih ada glitch tipis yang jarang muncul. Dengan pengaturan ini, pengalaman menyalakan controller lalu otomatis menyalakan PC dan TV sekaligus benar-benar terasa seperti pengalaman konsol.

Kenapa Build Ini Menggantikan PC Windows Sehari-hari

Desain ringkas PC mini yang ditempatkan di samping soundbar
Desain ringkas PC mini yang ditempatkan di samping soundbar

Secara keseluruhan, kepuasan terhadap build ini cukup tinggi. Fitur Quick Resume di SteamOS sangat membantu memaksimalkan waktu terbatas untuk bermain game, terutama bagi yang sudah punya kesibukan lain sehari-hari. Bentuknya juga cukup compact untuk ditaruh di living room, dan kipasnya tidak berisik seperti PC gaming pada umumnya.

Pengalaman yang konsol-like ini begitu memudahkan sampai-sampai selama sebulan terakhir, PC Windows dengan RTX 4090 yang biasa dipakai jadi tidak tersentuh lagi. PC Windows tersebut kemungkinan akan dialihfungsikan sebagai PC editor di kantor, karena kebutuhan di sektor itu memang lebih relevan dibanding untuk gaming semata.

Rencana ke depan masih ada beberapa kustomisasi tambahan, seperti memasang faceplate 3D print di bagian depan agar tampilannya lebih mirip Steam Machine asli, lengkap dengan port USB, microSD, dan tombol power di bagian bawah. Bahkan ada kemungkinan mencetak case secara keseluruhan dengan 3D print, dengan ukuran yang disesuaikan untuk GPU 9060 XT berukuran 200mm agar bentuknya benar-benar kotak sempurna.

Proyek ini pada akhirnya membuktikan bahwa kunci utama pengalaman konsol bukan terletak pada hardware eksklusif atau bentuk fisik yang unik, melainkan pada SteamOS itu sendiri yang ternyata simpel dan tidak ribet untuk diinstal. PC gaming lama yang sudah bosan dengan Windows bisa diubah menjadi pengalaman ala konsol tanpa perlu membeli konsol baru, di tengah harga game digital yang terus naik dan kewajiban bayar subscription online yang makin membebani.

Comment

Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berbagi pendapat!