Gadget of the Month Mei 2026: Cara Tetap Gaming di Tengah Harga Hardware yang Melonjak

Gadget of the Month Mei 2026: Cara Tetap Gaming di Tengah Harga Hardware yang Melonjak

Highlight

Bestindotech
  • Legion Go 2 melonjak dari Rp17,999 juta ke Rp25 juta akibat kelangkaan chip dan flash storage yang dipicu kebutuhan AI.
  • Streaming game AAA seperti Horizon 6 lewat Artemis bisa terkunci di 90fps, jauh lebih stabil dibanding hanya 40fps native di Steam Deck.
  • Skull and Co JamGate Dock seharga Rp500.000 kompatibel dengan Switch 2, Steam Deck, dan handheld Android lainnya dalam satu dock.

Beli Produk

Harga hardware gaming sedang tidak ramah belakangan ini. Kelangkaan chip dan storage flash yang sebagian dipicu kebutuhan AI ikut menyeret naik harga PS5, PC, hingga handheld console. PS5 yang dulu di kisaran Rp8 juta kini ke Rp10 juta, ROG Ally X naik dari Rp15 juta ke Rp18 juta, dan yang paling mencolok adalah Legion Go 2 yang melonjak dari Rp17,999 juta ke Rp25 juta.

Di tengah situasi ini, GOTM Mei 2026 fokus ke cara memaksimalkan hardware yang sudah ada lewat software, ditambah beberapa rekomendasi aksesori yang terbukti berguna setelah dipakai langsung. Temanya: bagaimana tetap gaming tanpa harus buru-buru upgrade perangkat baru.

GameNative Bikin Main Game PC di Android Jauh Lebih Mudah

Tampilan loading screen aplikasi GameNative di smartphone dengan gamepad clip-on

GameNative adalah salah satu dari beberapa aplikasi yang memungkinkan instalasi game PC langsung di smartphone Android, mengikuti pendahulunya seperti Winlator dan GameHub. Dari segi kemudahan, GameNative dinilai paling mudah dipelajari. Caranya: unduh APK dari website resminya, sesuaikan beberapa setting seperti Play Protect jika instalasi gagal, lalu login ke akun Steam atau Epic, paling mudah lewat scan QR code.

Setelah login, semua game di library Steam bisa langsung diinstal. Karena sudah punya Steam Deck, library yang dipakai memang terpusat di Steam, termasuk Hades 2 yang baru selesai dimainkan ulang setelah update resmi launching-nya membawa banyak storyline dan karakter baru. Game ini sebenarnya dimainkan di Steam Deck, tapi GameNative memungkinkan hal yang sama dilakukan di smartphone, tablet, bahkan handheld retro gaming berbasis Android seperti Retroid, AYN, atau Ayaneo.

Sebelum berekspektasi tinggi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Chipset sangat memengaruhi performa, idealnya Snapdragon seri 8 ke atas seperti 865, 888, 8 Gen, hingga 8 Elite. RAM idealnya minimal 12GB, karena game PC umumnya memakan 6-7GB RAM, sehingga RAM 8GB dirasa kurang aman. Keterbatasan utama justru ada di suhu, karena proses emulasi lewat transition layer membuat beban pemrosesan lebih berat, terutama untuk game dengan grafis berat. Inilah alasan handheld gaming lebih direkomendasikan dibanding smartphone biasa, karena sudah punya cooling aktif berupa fan internal. Menambahkan fan eksternal ke smartphone bisa jadi alternatif, tapi setupnya lebih rumit dan kurang efektif, serta berisiko terhadap kesehatan chip dalam jangka panjang.

Artemis dan Moonlight untuk Streaming Game Berat

Streaming game dari ROG Flow Z13 ke Xiaomi Pad 8 menggunakan Artemis

Untuk yang punya gaming PC dengan spek bagus tapi jarang dipakai, atau lebih suka main di handheld tanpa harus membeli baru, ada opsi streaming lewat Artemis, Moonlight, atau Apollo. Secara pribadi, Artemis yang paling sering dipakai, instalasinya mirip GameNative dan bisa diunduh lewat GitHub. Artemis diinstal di smartphone Android atau Steam Deck, sementara Apollo diinstal di laptop atau PC sebagai host. Keduanya tinggal dipasangkan dalam jaringan yang sama, dan PC bisa di-stream ke smartphone, tablet, atau handheld Android.

Streaming ini memungkinkan main game AAA berat yang biasanya tidak bisa dijalankan secara native. Horizon 6 misalnya, hanya mencapai 40fps di Steam Deck, tapi saat di-stream dari gaming PC atau tablet ROG Flow Z13, frame rate bisa terkunci di minimal 90fps, bahkan hingga 120fps kalau spek dan layar smartphone mendukung. Pengalamannya terasa seamless, terutama jika menggunakan controller. Yang paling krusial adalah kestabilan jaringan, dan disarankan menghubungkan PC host lewat LAN atau Ethernet agar koneksi lebih stabil, sementara device yang menerima stream tetap pakai WiFi.

Beberapa game AAA seperti Forza dan Spider-Man 2 sudah dicoba lewat metode ini. Spider-Man 2 sebelumnya tidak terlalu dimainkan karena performanya di Steam Deck tidak sampai 30fps, tapi sekarang sudah lebih stabil lewat streaming. Game berat seperti God of War yang tidak bisa diinstal secara native di GameNative pun bisa dimainkan lewat metode ini. Ada juga alternatif seperti Steam Link, tapi dirasa kurang optimal karena sistem input-nya berbeda, Artemis menangkap input dari device yang menerima stream, bukan mengirim input lewat jaringan streaming.

Retroid Pocket Flip 2 Tetap Konsisten untuk Harga Segini

Tampilan home screen Retroid Pocket Flip 2

Untuk hardware, Retroid Pocket Flip 2 adalah handheld berbasis Android yang sudah dipakai cukup lama. Karena berbasis Android, perangkat ini bisa install Play Store, Netflix, YouTube, sama seperti smartphone biasa. Spesifikasinya menggunakan Snapdragon 865, cukup lancar untuk emulasi game hingga PS2 dan beberapa game Nintendo Switch, meski tidak semuanya kompatibel.

Untuk game PC indie, beberapa yang sudah dicoba antara lain Hades, Hades 2 yang sudah selesai dimainkan, Vampire Survivors, Dave the Diver, Slay the Spire, Tape to Tape, dan beberapa game lain yang belum semuanya dicoba. Untuk mengecek kompatibilitas device dengan game tertentu, ada website bernama EmuReady yang bisa membantu memastikan sebelum mencoba.

Dari sisi spek fisik, layarnya 5,5 inci 1080p LCD dengan kontroler yang terasa nyaman digunakan. Desain clamshell-nya mungkin tidak disukai semua orang, tapi terasa nyaman, kemungkinan karena sudah lebih dulu familiar dengan perangkat clamshell sebelumnya yang justru kurang nyaman dan lebih bulky. Satu kelebihan dari handheld dedicated seperti ini adalah adanya fan aktif untuk chipset Snapdragon, sesuatu yang tidak dimiliki smartphone biasa.

Ada juga AYN Odin 2 yang dicoba, menggunakan Snapdragon 8 Gen 2 yang lebih kencang tapi harganya dua kali lipat dari Retroid Pocket Flip 2. Untuk yang mencari value for money, Retroid Pocket Flip 2 tetap jadi rekomendasi utama dibanding opsi yang lebih mahal. Bagi yang bingung soal setup handheld, emulator, hingga game PC, ada juga jasa setup seperti AJ Toys yang tersedia di Jakarta, Surabaya, dan Bekasi, dengan harga mulai sekitar Rp4 juta.

8BitDo Pro 3 Tawarkan Fitur Lengkap di Luar Controller Resmi

Controller 8BitDo Pro 3 beserta harganya

Untuk kontroler, 8BitDo Pro 3 jadi rekomendasi kedua. Sebagai gamer yang tumbuh dengan layout PlayStation, layout analog dengan joystick di kiri bawah pada controller ini terasa familiar. Sempat dicoba juga layout Xbox, tapi kurang cocok karena kurang familiar. Versi ketiga dari 8BitDo Pro ini membawa banyak peningkatan, termasuk joystick yang bisa diganti, sesuatu yang berguna karena pemakaian intensif untuk main FIFA bisa membuat joystick cepat rusak.

Controller ini juga kompatibel dengan Nintendo Switch 2, termasuk fitur wake up setelah update terbaru, serta bisa digunakan di PC maupun Mac. Fitur fisiknya cukup lengkap: full shoulder button, tombol R3 di atas, dua tombol tambahan di belakang, dan adjustable trigger yang bisa diatur antara mode klik ala Nintendo atau mode in-game trigger seperti yang dipakai di Forza Horizon. Untuk koneksi, tersedia opsi S-Input, D-Input, X-Input, Switch, Bluetooth, hingga dongle 2.4GHz yang sudah terintegrasi di dalam dock charging-nya.

Dibandingkan dengan GameSir yang juga punya layout PlayStation, 8BitDo Pro 3 dirasa lebih simpel dan minimalis, karena GameSir terasa terlalu rumit di bagian tombolnya. Ada juga opsi alternatif joystick untuk memainkan game ritme seperti Gintinju, tombol A B X Y bisa diputar posisinya menggunakan sistem magnet. Untuk yang mencari alternatif dari controller resmi PS5, 8BitDo Pro 3 atau Pro 2 jadi rekomendasi yang kuat, meski DualSense asli tetap jadi pilihan terbaik kalau budget memungkinkan dua kali lipat lebih mahal. Satu catatan minus: baterai 8BitDo Pro 3 terintegrasi dan tidak bisa dilepas, berbeda dari Pro 2 dan Pro 1 yang masih bisa diganti dengan baterai AA atau AAA.

Satu Dock dari Skull and Co untuk Hampir Semua Perangkat

JamGate Dock dari Skull and Co

Terakhir, ada all-in-one dock dari Skull and Co bernama JamGate Dock, yang kompatibel dengan hampir semua handheld gaming, mulai dari smartphone, Steam Deck, Nintendo Switch 2, hingga perangkat berbasis Android lainnya. Dock ini punya port USB-C di bagian depan yang kompatibel dengan Nintendo Switch, dan di bagian bawah ada mekanisme lepas-pasang untuk dock yang bisa dipindahkan ke Steam Deck atau handheld lain yang membutuhkan koneksi di bagian bawah perangkat.

Total ada empat port: satu USB-C, satu HDMI, dan dua USB, cukup untuk menyambungkan controller tambahan. Ada juga penyesuaian untuk Nintendo Switch dengan atau tanpa casing, lengkap dengan klip yang bisa dipindahkan di bagian atas. Untuk handheld berbasis Android seperti Retroid, klip ini bisa dilepas dan menyisakan port USB-C penuh. Dock-nya juga sedikit ditinggikan agar handheld yang terpasang tidak menyentuh permukaan meja secara langsung.

Harganya sekitar Rp500.000, jauh lebih murah dibanding dock resmi Nintendo Switch 2 yang harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Untuk yang punya berbagai perangkat gaming sekaligus, dock ini jadi alternatif yang kompatibel untuk semuanya tanpa harus beli dock terpisah untuk setiap perangkat.

Software Jadi Jalan Keluar di Tengah Harga yang Tidak Bersahabat

Kumpulan perangkat gaming GOTM Mei 2026

Harapannya, kondisi kelangkaan chip dan kenaikan harga ini bisa membaik ke depannya. Tapi selama itu belum terjadi, perkembangan software membuka jalan untuk memaksimalkan perangkat yang sudah dimiliki tanpa harus buru-buru membeli yang baru. Itulah tema utama dari GOTM Mei 2026 ini: bukan tentang gadget baru yang harus dibeli, tapi cara baru memaksimalkan apa yang sudah ada di tangan.

Comment

Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berbagi pendapat!