OPPO Find X9 Ultra vs Vivo X300 Ultra vs Xiaomi 17 Ultra: Adu Kamera

OPPO Find X9 Ultra vs Vivo X300 Ultra vs Xiaomi 17 Ultra: Adu Kamera

Highlight

Bestindotech
  • Tiga flagship Ultra dengan brand kamera profesional diadu: Oppo x Hasselblad, Vivo x Zeiss, Xiaomi x Leica.
  • Pengujian mencakup main camera, telephoto, periscope zoom sampai 50x, ultra wide, selfie, dan video.
  • Segmen baru same spot shot mengadu tiga kamera di spot yang sama untuk menilai karakter masing-masing.

Beli Produk

Tiga smartphone Ultra dengan sistem kamera paling menonjol di pasaran saat ini akhirnya dipertemukan di satu meja. OPPO Find X9 Ultra, Vivo X300 Ultra, dan Xiaomi 17 Ultra sama-sama menggandeng nama besar di dunia optik, masing-masing dengan karakter warna yang sudah punya penggemarnya sendiri. Pertanyaannya sederhana tapi tidak mudah dijawab: dari ketiganya, mana yang benar-benar layak disebut raja kamera?

Untuk menjawabnya, ketiga ponsel diadu lewat segmen bernama same spot shot, di mana ketiga kamera menembak objek yang sama persis pada waktu yang sama. Semua foto dan video diambil dengan mode auto, tanpa menyelam ke mode pro, agar hasilnya mencerminkan pengalaman pemakaian harian. Penilaian dibuat berjenjang, tiga poin untuk juara pertama tiap sesi, dua poin untuk kedua, dan satu poin untuk ketiga, lalu diakumulasi di akhir.

Tiga Filosofi Kamera dari Tiga Brand Optik Berbeda

OPPO Find X9 Ultra menggandeng Hasselblad dan membawa empat lensa di belakang. Main camera 23mm memakai sensor 200MP, ditemani dua lensa zoom berupa telephoto 3x optical 70mm dengan sensor 200MP dan periscope 10x optical 230mm bersensor 50MP. Ultra wide-nya di 14mm 50MP, dan kamera selfie 50MP di 21mm. Perangkat lunaknya sudah berjalan di ColorOS 16 terbaru.

Vivo X300 Ultra bersama Zeiss memakai tiga lensa. Main camera-nya sedikit lebih nge-zoom di 35mm dengan sensor 200MP, periscope telephoto 3,7x optical 85mm juga 200MP, dan ultra wide 14mm 50MP. Kamera selfie-nya 50MP di 24mm, dengan software OriginOS 6. Xiaomi 17 Ultra menggandeng Leica, juga tiga lensa: main camera 23mm bersensor 50MP berukuran 1 inci yang paling besar di antara ketiganya, periscope telephoto continuous zoom dengan zoom ring 75mm sampai 100mm bersensor 200MP, ultra wide 14mm 50MP, dan selfie 50MP di 21mm, berjalan di HyperOS 3.

Main Camera Menunjukkan Karakter Warna yang Berbeda Jauh

Di foto makanan pada 1x zoom, Xiaomi tampil paling menggiurkan dengan color balance warm dan nuansa cinematic lewat Leica Vibrant, meski warnanya tetap terkesan gelap. Vivo, meski harus zoom out dari main camera-nya, tetap tajam dan warnanya paling mendekati aslinya sehingga paling nyaman untuk diedit. OPPO di sini terlihat overexposed dan perlu diturunkan manual.

Berpindah ke objek mobil klasik dengan main camera Vivo di 1,5x, karakter flat Vivo kembali menonjol dengan detail luas dan dynamic range yang lebar. Xiaomi lewat Leica Authentic menghadirkan vinyet dan black level tinggi yang terasa cinematic, terutama untuk subjek klasik. OPPO sebenarnya on par dengan Vivo, hanya karakternya tidak sekuat dua rivalnya.

Saat night mode dinyalakan di kondisi remang, keadaan berbalik. OPPO justru paling natural, menangkap warna lampu dan sampul album persis seperti aslinya dengan detail yang mengesankan. Vivo tetap berdetail tapi warnanya terlalu kuning, sedangkan Xiaomi membuat lampu yang tadinya hangat menjadi putih, termasuk skin tone tangan yang ikut memucat.

Makro dan Full Sensor Memisahkan Detail dari Kedalaman

Di mode makro dengan 2x digital zoom, hasilnya cukup jomplang. Vivo memang meleset dari sisi warna, tapi punya depth yang membuat fotonya terasa seperti dijepret kamera asli tanpa mode makro. Xiaomi warnanya paling tepat dengan gradasi yang benar, tapi tidak menghadirkan depth seperti Vivo, sementara OPPO berada di tengah baik dari warna maupun kedalaman.

Saat main camera dipakai dengan full sensor, Vivo dan OPPO diuntungkan sensor 200MP, sedangkan Xiaomi mengandalkan sensor 1 inci. Vivo menangkap detail paling gila, bahkan tulisan kecil terbaca saat di-zoom, dengan ukuran file 50MB dibanding OPPO yang 65MB namun kurang detail. Xiaomi keteteran di sini, karena ukuran sensor 1 inci tidak bisa menyaingi pixel binning dari sensor 200MP milik dua rivalnya.

Telephoto dan Portrait Jadi Panggung Xiaomi dan Vivo

Beralih ke telephoto untuk memotret bunga kecil dari jarak fokus terdekat, Vivo mendapat jarak fokus paling dekat sehingga bunga tampak lebih padat di frame, dengan warna yang justru terasa cinematic. OPPO memberi warna paling netral yang cocok untuk diotak-atik dengan filter, sementara Xiaomi lewat Leica Vibrant terlihat terlalu pekat dan tidak natural.

Di portrait mode 85mm, wajah Haris tampil dengan karakter warna berbeda-beda di tiap ponsel. Xiaomi paling menarik di mata dengan skin tone yang di-boost dan potongan helai rambut yang sangat rapi, ideal untuk ready to post. Vivo paling flat sehingga paling mudah dibenahi setelah editing, ditambah pilihan enam gaya bokeh dari Zeiss. OPPO tidak jelek, hanya sedikit underexposed, tapi bokehnya rapi dengan bloom berbentuk segi delapan yang dihasilkan secara hardware.

Ketika portrait digabung dengan night mode, processing ketiganya bekerja keras. Vivo tampil paling apa adanya, mempertahankan tekstur dan vibe gelap aslinya, plus keleluasaan bokeh flare yang bisa diubah-ubah. OPPO menajamkan wajah dengan AI hingga skin tone terasa agak pucat, sedangkan Xiaomi paling rendah exposure-nya sehingga detail wajah seperti hilang, dengan warna paling warm di antara ketiganya.

Periscope Zoom Jadi Wilayah Kekuasaan OPPO

Di 10x zoom, OPPO diuntungkan periscope optical 10x yang bisa dibilang breakthrough untuk kamera ponsel, karena sebelumnya belum ada yang benar-benar optical di angka ini. Hasilnya paling natural dari sisi detail dan warna tanpa banyak enhancement. Xiaomi menangkap detail cukup baik tapi warnanya ngejreng, sedangkan Vivo terlalu memaksakan boost dari 200MP-nya hingga terasa gloomy, underexposed, dan over sharpen.

Saat 10x digabung night mode yang lebih ekstrem, OPPO kembali menangkap vibe paling benar sesuai kondisi malam aslinya. Vivo yang tadinya struggle ternyata mampu meng-enhance tulisan lampu dengan sharpening agresif dari AI-nya. Xiaomi terlihat agak blur karena processing-nya tidak segenjot dua rivalnya dan lebih mengandalkan OIS, sehingga untuk kondisi seperti ini disarankan memakai tripod.

Pada zoom terjauh 50x yang semuanya digital, OPPO tampil tajam dengan AI yang bekerja maksimal, bahkan tulisan kecil masih terbaca, sementara Vivo dan Xiaomi mulai kesulitan menjaga teks tetap rapi. Kombinasi optical 10x dan AI yang matang membuat OPPO unggul jelas di rentang zoom jauh ini.

Ultra Wide dan Selfie Mengembalikan Panggung ke Vivo dan OPPO

Di ultra wide siang hari, Vivo memberi dynamic range paling oke dengan warna yang engaging dan keleluasaan penuh di 14mm tanpa crop berlebih. OPPO sama bagusnya, hanya warnanya terlalu menyala seperti hasil editan. Xiaomi meski sama di 14mm justru sedikit nge-crop karena distortion correction, membuat tangkapannya lebih sempit dengan warna warm dan cenderung underexposed. Pola serupa berlanjut di ultra wide night mode, di mana Vivo paling baik meredam cahaya lampu gedung, diikuti OPPO, sedangkan Xiaomi paling kesulitan.

Kembali ke kamera selfie dengan portrait mode, OPPO paling menarik berkat skin tone yang pas, cakupan paling lebar, dan bokeh yang rapi. Vivo punya skin tone menarik tapi focal length-nya tidak seluas dua rivalnya, sedangkan Xiaomi membuat wajah terkesan lebih gelap dari aslinya. Di selfie kondisi remang dengan night mode, OPPO tetap paling balance dan akurat, Vivo cenderung wash out dan pucat, sementara Xiaomi memberi rona wajah yang terlalu kuning.

Perekaman Video Menguji Perpindahan Lensa dan Warna

Untuk video ganti-ganti lensa, OPPO menawarkan perpindahan yang cukup smooth dengan exposure konsisten dan audio yang bagus sehingga paling dominan secara keseluruhan. Xiaomi juara di kehalusan perpindahan lensa, hanya cenderung overexpose dan warnanya sangat di-boost. Vivo sayangnya underexpose saat selfie dan perpindahan lensanya paling terasa.

Di portrait video, OPPO paling natural dari sisi skin tone dan exposure, dengan bokeh rapi dan kemampuan sampai 4K30. Xiaomi punya skin tone oke dan bokeh dalam secara default, tapi terbatas di 1080p 30fps dan tidak bisa portrait video untuk rear camera. Vivo bokehnya rapi tapi skin tone-nya jadi terlalu pucat. Sementara di log video yang dikonversi ke Rec.709, Vivo paling siap pakai langsung dari ponsel, OPPO menawarkan exposure dan warna yang pas untuk sedikit penyesuaian, sedangkan Xiaomi hasil konversinya terlalu gelap dan wajib diolah lebih dulu.

Tiga Karakter yang Menjawab Kebutuhan Berbeda

Papan skor akhir dari seluruh sesi pengujian kamera ketiga HP

Setelah semua sesi, karakter masing-masing kamera terlihat jelas. OPPO Find X9 Ultra fleksibel untuk pengguna awam, dengan foto yang balance dan ready to post, hasil yang apa adanya tanpa enhancement AI berlebih, serta periscope 10x yang jadi nilai plus saat travel, apalagi bisa diperpanjang dengan teleconverter Hasselblad Earth Explorer Kit. Konsistensinya di semua lensa jadi kekuatan, meski sesekali meleset menangkap exposure di kondisi ekstrem.

Vivo X300 Ultra terasa seperti kamera profesional yang geek, dengan hasil flat yang mudah diotak-atik dan detail tinggi meski kadang over sharpen. Variasi mode fotografi dan videografinya sangat banyak, dari street, bokeh, flare, sampai landscape dan night, membuatnya terasa seperti pengganti kamera mirrorless, terutama untuk kondisi gelap berkat efek bokeh Zeiss. Konsekuensinya, semua fitur ini bisa terasa overwhelming untuk pengguna harian.

Xiaomi 17 Ultra menawarkan pengalaman memotret yang berkarakter lewat racikan tone khas Leica, dengan filter dan style yang bebas dipadupadankan. Lensa telephoto continuous zoom dengan zoom ring-nya menghadirkan rasa seperti kamera mirrorless sungguhan, sebuah pengalaman langka yang hanya ditemukan di sini. Sisi lainnya, kontras dan black level yang terlalu pekat membuatnya tidak cocok untuk semua kondisi foto, dan perbedaannya terasa saat disandingkan dengan dua rivalnya.

Penilaian ini subjektif dan hasil akhirnya bisa berbeda untuk tiap orang, tergantung selera terhadap warna netral, karakter yang nyeni, atau tone yang pas di mata. Yang jelas, ketiga Ultra ini membuktikan bahwa perbedaan kamera flagship kini bukan soal siapa lebih tajam, melainkan soal karakter mana yang paling cocok dengan cara kalian memotret.

Comment

Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berbagi pendapat!