Highlight
Bestindotech- Motorola Edge 70 Fusion membawa UI stock Android yang bersih, salah satu yang terdekat ke Android murni di Indonesia.
- Layar naik ke 6,78 inci AMOLED 144Hz dan baterai membesar ke 7000 mAh dengan charging 68W.
- RAM turun dari 12GB di Edge 60 Fusion menjadi 8GB, jadi pertimbangan penting sebelum membeli.
Where to Buy
5 products
Bestindotech may earn a commission from these links, at no extra cost to you.
Motorola bukan nama yang sering muncul dalam percakapan smartphone di Indonesia belakangan ini, padahal mereknya punya sejarah panjang di industri ponsel. Setelah cukup lama absen dari pembahasan, Motorola kembali lewat Edge 70 Fusion, penerus Edge 60 Fusion yang sempat ramai diperbincangkan.
Yang membuat pengalaman ini terasa segar, ini menjadi kesempatan pertama mencoba langsung smartphone Motorola, tanpa pengalaman sebelumnya dengan seri lama maupun lini warna-warni mereka yang belakangan mencolok. Edge 70 Fusion sendiri membawa sejumlah perubahan dibanding pendahulunya, dan beberapa di antaranya cukup mengejutkan. Berikut catatan lengkap dari sesi unboxing dan kesan pertama memakainya.
Peningkatan Spesifikasi dan Isi Kotak yang Lengkap

Dibanding Edge 60 Fusion, layarnya membesar menjadi 6,78 inci AMOLED 144Hz. Chipsetnya kini memakai Snapdragon 7s Gen 4 dengan hanya satu varian storage, yaitu 8GB dan 256GB. Baterainya juga naik ke 7000 mAh, meski kecepatan pengisiannya tetap di 68W.
Isi kotaknya cukup lengkap, mencakup charger 68W, kabel Type-C ke Type-C, kartu SIM yang tampaknya sudah satu paket dengan HP, SIM ejector dengan kemasan menarik menyerupai wet wipes, buku panduan, serta case bening. Unit yang dipakai berwarna Pantone Silhouette, hitam yang tidak sepenuhnya pekat karena ada nuansa biru dan abu di dalamnya.
Bodi Melengkung yang Nyaman tapi Mudah Tergores

Bagian belakangnya tidak keras dan terasa seperti karet dengan sentuhan menyerupai vegan leather, lengkap dengan logo Motorola di tengah. Bodinya melengkung sehingga nyaman digenggam, dan meski bobotnya 193 gram, terasa lebih ringan dari perkiraan, kemungkinan karena efek lengkungannya dan modul kamera yang tidak terlalu berat.
Sayangnya, kelemahan langsung terlihat di sesi pertama, karena permukaannya sudah tergores bahkan sebelum HP dinyalakan. Materialnya yang empuk membuatnya rentan tergores oleh kuku atau saat disimpan di kantong celana tanpa case, apalagi pada varian warna kontras seperti hitam. Case bawaan yang bening tetap membiarkan warna aslinya terlihat, dan memakainya terasa wajib. Dari sisi ketahanan, HP ini punya sertifikasi IP rating dan military standard, meski tetap tidak disarankan untuk dicelupkan ke air laut.
Stock Android yang Bersih dan Bisa Dikustomisasi Luas

Antarmukanya terasa seperti stock Android murni, sesuatu yang jadi nilai plus untuk HP di harga 6 jutaan. Notification bar-nya bersih dan ringan, dengan desain yang rapi. Kustomisasinya juga luas, mulai dari widget, wallpaper, tema yang tersedia banyak, sampai menu Personalize untuk mengganti ikon dan font, serta opsi Colors bagi yang menginginkan tampilan lebih monoton.
Lock screen-nya bisa disesuaikan dengan berbagai gaya jam khas Motorola, empat widget kecil, dan dua shortcut di bagian bawah yang bisa diisi aplikasi. Soal music notification bar, Motorola tidak menyediakan fitur menyerupai Dynamic Island secara bawaan, sehingga perlu aplikasi pihak ketiga seperti Dynamic Spot. Meski begitu, tampilan bawaannya sendiri sudah minimalis dan menarik, menampilkan wallpaper penyanyi sekaligus mempertahankan gaya visualisasi khas Android yang sudah lama tidak terlihat di HP lain.
Moto AI dan Gestur yang Memperkaya Pemakaian

Fitur gestur bawaan mencakup gerakan mengibaskan HP untuk menyalakan senter, meski sayangnya tidak bisa dikustomisasi. Yang bisa diubah adalah gestur ketuk punggung HP, di mana ketukan ganda bisa diatur untuk memunculkan AI atau membuka aplikasi apa pun. Menariknya, pilihan AI-nya tidak terbatas pada Gemini, karena ada juga Copilot dan Perplexity.
Di menu Moto AI, ada berbagai pengaturan mulai dari launch gesture lewat penekanan ganda tombol power, quick launch, sampai floating bubble di sisi layar. Pada bagian action, dua fitur yang menyenangkan untuk dipakai sehari-hari adalah Image Studio untuk menghasilkan gambar dan stiker sesuai imajinasi, yang mengharuskan login akun Motorola terlebih dahulu, serta Catch Me Up yang berfungsi merangkum notifikasi menyerupai fitur serupa di iPhone. Ada pula personalization and memory yang mirip konsep Mindspace milik OPPO, memungkinkan pengguna membuat jurnal atau diary lewat suara maupun teks, lengkap dengan foto dan rangkuman otomatis.
Kamera yang Datar dan Perekaman Video yang Perlu Dibenahi
Edge 70 Fusion memakai main camera 50MP dan ultra wide 13MP. Memotret di lokasi outdoor maupun indoor menghasilkan detail yang tajam dengan warna yang cenderung datar, tidak diproses terlalu dalam. Zoom 2x-nya menarik untuk memotret bunga karena hasilnya mendekati aslinya, dan detail objek tetap tertangkap baik. Mode potret dengan opsi 35mm dan 50mm memberi hasil yang oke, meski potongan bokehnya sesekali meleset terutama di area rambut. Ultra wide-nya sama tajam dengan dynamic range yang baik, sementara kamera selfie menangkap skin tone yang cenderung pucat meski detail wajah terekam jelas.
Sisi video justru menjadi kelemahan paling terasa. Perekaman selfie mentok di 4K 30fps, dan perpindahan ke rear camera tidak bisa dilakukan langsung karena harus dimatikan lebih dulu. Ultra wide juga tidak bisa dinaikkan ke 60fps, karena 4K 60 hanya tersedia di main camera. Saat berpindah lensa dari ultra wide ke main camera, transisinya terasa patah dan tanpa peralihan yang halus. Ada mode dual video yang merekam kamera belakang dan selfie bersamaan, meski di mode ini lensa belakang tidak bisa diganti dan zoom-nya mentok di 0,9.
Performa Lancar dengan Kekhawatiran pada Kapasitas RAM

Untuk harga mid-range, performanya tergolong oke. Skor AnTuTu-nya menyentuh 1 juta poin dan Geekbench 6 multi core di kisaran 3 ribuan poin. Saat membuka aplikasi, menggulir, dan berpindah antar aplikasi, tidak ditemukan lag maupun stutter, terbantu oleh antarmuka stock Android yang ringan.
Kekhawatirannya justru ada pada pemakaian jangka panjang, karena varian storage-nya hanya satu dengan RAM 8GB, turun dari Edge 60 Fusion yang memakai 12GB. Untuk kelas mid-range saat ini, 8GB terasa kurang lega. Di sisi gaming, Wuthering Waves dengan setelan grafis balance medium dan frame rate 60fps di mode turbo berjalan cukup baik. Suhunya tercatat sekitar 43 derajat di layar, 42 derajat di bagian atas dan bawah, 39 sampai 40 derajat di frame, serta 30 sampai 40 derajat di punggung, sehingga bagian paling panas ada di layar. Snapdragon 7s Gen 4 terbukti cukup untuk pemakaian berat seperti ini.
Layar Kalem dan Speaker yang Kurang Berisi di Bawah

Karakter layarnya bukan tipe yang sangat vibrant seperti sebagian merek lain, melainkan cenderung kalem dengan warna natural yang terjaga. Pada area terang seperti matahari, keseimbangan antara bagian cerah dan gelapnya terasa lebih rata, dan menonton dengan HDR aktif terasa nyaman di mata meski tidak terlalu memanjakan. Satu catatan penting, layarnya keluar dari kotak tanpa proteksi apa pun, sehingga perlu membeli pelindung terpisah, dengan hydrogel sebagai pilihan yang lebih mudah menempel pada layar melengkung.
Speaker stereonya di bagian atas dan bawah, dengan Dolby Atmos aktif, menghasilkan suara yang cenderung bright dan cukup kencang untuk bermain media sosial. Kekurangannya, porsi bass nyaris tidak terasa, sehingga untuk mendengarkan musik hasilnya sekadar cukup untuk keperluan sehari-hari.
Menimbang Edge 70 Fusion atau Generasi Sebelumnya

Ada beberapa hal yang membuat Edge 70 Fusion terasa menarik. Pertama, antarmukanya yang sangat dekat dengan stock Android, sesuatu yang jarang ditemui pada HP resmi di Indonesia. Kedua, keseimbangan antara performa, layar, desain, dan kenyamanan genggaman yang terasa pas untuk yang menginginkan perangkat serba pasti.
Kekurangannya juga jelas. Kameranya terasa biasa saja, terutama perekaman video yang perpindahan lensanya patah dan butuh pengembangan di sisi perangkat lunak. Penurunan RAM dari 12GB ke 8GB bisa menjadi deal breaker, apalagi Edge 60 Fusion tersedia di harga 4,5 juta dengan RAM 12GB dan spesifikasi yang tidak jauh berbeda. Bodinya pun terasa rapuh sehingga penggunaan case menjadi wajib.
Motorola Edge 70 Fusion dibanderol dengan SRP di kisaran 6 sampai 7 jutaan, meski dengan voucher di e-commerce bisa didapat di kisaran 5,9 juta. Bagi yang tertarik, membandingkannya dengan Edge 60 Fusion jadi langkah yang masuk akal sebelum memutuskan, karena selisih harga dan kapasitas RAM di antara keduanya cukup berpengaruh pada pengalaman jangka panjang.







Comment