Highlight
Bestindotech- Malvin upgrade dari MacBook Air M2 ke M5 15 inci tepat sebelum Apple resmi menaikkan harga di Indonesia.
- Harga MacBook Air M5 15 inci naik dari 24,4 juta ke 28,9 juta pada 1 Juli 2026, hampir 20 persen.
- Chip M5 melompat jauh di sektor AI dan kecepatan SSD, dengan base model kini di 16GB 512GB.
Where to Buy
1 productBestindotech may earn a commission from these links, at no extra cost to you.
Ada keputusan yang baru terasa tepat setelah waktunya lewat, dan upgrade laptop kali ini adalah salah satunya. Setelah tiga tahun setia dengan MacBook Air M2 13 inci yang mulai terasa umurnya, muncul niat untuk pindah ke MacBook Air terbaru sekaligus menaikkan ukuran layar. Timing-nya ternyata krusial, karena pembelian dilakukan tepat sebelum harga produk Apple resmi naik di Indonesia.
Pada 26 Juni, Tim Cook mengumumkan kenaikan harga, dan pada 1 Juli 2026 hampir semua barang Apple di Indonesia, kecuali iPhone, resmi naik dengan angka yang cukup mengagetkan. Di titik itulah keputusan untuk membeli lebih dulu dan memikirkan sisanya belakangan terasa membayar dirinya sendiri. Artikel ini merangkum apa yang di-upgrade, alasannya, dan bagaimana chip M5 base ini menunjukkan performanya lewat serangkaian pengujian.
Membeli Tepat di Ambang Kenaikan Harga

Unit yang dipilih adalah MacBook Air M5 15 inci dengan GPU 10-core, varian 16GB dan 512GB, warna Sky Blue. Harganya 25.499.000 rupiah, dengan diskon sekitar 1 juta sehingga menyentuh harga normalnya di 24.499.000 rupiah sebelum kenaikan. Pada pagi hari saat video diambil, harga resminya sudah naik menjadi 28.999.000 rupiah, artinya lompatan sekitar 4,5 juta atau hampir 20 persen.
Firasat untuk membeli lebih dulu ternyata berbuah, apalagi banyak masukan yang menyarankan mengambil segera karena lebih baik menyesal membeli daripada menyesal saat harga naik. Perjuangannya sendiri tidak mulus. Warna yang diincar sebenarnya Silver karena dianggap tidak lekang oleh waktu, tapi stoknya sulit ditemukan hingga dua kali transaksi sempat dibatalkan setelah pembayaran, sebelum akhirnya menetap di Sky Blue.
Base Model yang Standarnya Naik Kelas

Varian yang dibeli adalah base model M5 dengan RAM 16GB dan storage 512GB. Ini menandai kenaikan standar yang cukup berarti, mengingat M2 dulu base-nya di 8GB dan 256GB, lalu M4 menaikkan RAM ke 16GB namun storage masih 256GB, dan kini M5 langsung menetapkan 512GB sebagai titik awal. Satu hal menarik lainnya, varian 15 inci mendapat GPU 10-core, sementara varian 13 inci mulai dari 8-core, sehingga versi 15 inci sedikit lebih bertenaga.
Kelengkapan dalam kotak mencakup kabel MagSafe yang warnanya senada dengan bodi Sky Blue, buku manual tanpa stiker demi kebijakan Go Green, serta charger dua port USB Type-C varian 35 watt. Dari sisi desain, MacBook Air tetap tampil sleek dan tipis, meski port-nya sama seperti versi 13 inci, yaitu dua USB-C, MagSafe, dan jack headphone 3,5mm.
Chip M5 Melompat Jauh di Sektor AI

Untuk mendapat gambaran nyata, dilakukan perbandingan benchmark dari M2 ke M4 hingga M5. Di Geekbench 6, peningkatan dari M2 ke M5 sudah sekitar 50 persen, atau 1,5 kali lebih kencang. Dalam pemakaian sehari-hari seperti membuka aplikasi atau browser, selisihnya mungkin hanya beberapa detik, tapi saat pekerjaan menumpuk, efisiensi dan kelancarannya jadi terasa.
Lompatan paling mencolok ada di sektor AI, yang memang jadi sorotan Apple di M5. Lewat Geekbench AI, peningkatan dari M2 ke M4 hanya sekitar 3 ribu poin, sedangkan naik ke M5 melonjak sampai 14 ribu poin untuk skor quantize, atau dua kali lebih kencang. Fokus ini relevan karena visi Apple mengarah ke AI yang berjalan lokal di perangkat, seperti untuk membersihkan objek pada foto dan fitur generatif lainnya, bukan AI berbasis cloud.
Kecepatan SSD dan GPU yang Ikut Terkerek

Peningkatan lain yang terasa ada pada kecepatan SSD. Saat mengedit video dengan efek bertingkat, kemampuan membaca data yang lebih cepat membuat proses yang biasanya perlu menunggu jadi lebih seamless. Dari M2 ke M4 ke M5, kecepatannya meningkat jauh hingga menyentuh angka 6 ribuan. Ini terasa istimewa mengingat pada M2, varian storage 256GB dulu tergolong lambat, meski konsekuensi hari ini adalah harga yang naik karena chip flash storage dan RAM yang makin mahal.
Di sisi browsing lewat Speedometer, peningkatannya ada meski tidak signifikan, karena sejak Apple memakai basis ARM pengalaman browsing memang sudah sangat mulus. Untuk 3D rendering di Blender, lompatan dari M4 ke M5 tidak terlalu besar karena fokus utamanya memang di AI. Namun dari sisi grafis, M5 tetap menarik karena Apple menaruh Neural Accelerator di GPU core, sehingga skor 3DMark Wildlife-nya meningkat hampir dua kali lipat dibanding M2.
Gaming di Mac yang Mulai Terasa Layak

Soal gaming, di WWDC Apple merilis Game Porting Toolkit 4 yang membuat performa penggunaannya jadi lebih baik. Dalam tes Cyberpunk, M5 sudah playable di kisaran 30 fps yang bisa disesuaikan naik turun, sementara M2 tidak playable karena hanya di kisaran 20 fps bahkan bisa lebih rendah di beberapa skenario. Meski begitu, MacBook tetap lebih condong ke produktivitas, dan library game yang bisa dimainkan lewat Steam atau App Store perlahan mulai bertambah.
Harapannya ke depan, Apple bisa membuat perangkat yang lebih khusus untuk gaming, mengingat chip seri M sudah menjanjikan dari sisi power maupun efisiensi. Yang tersisa tinggal kesediaan developer untuk melakukan porting agar game bisa dimainkan secara native di Mac.
Ukuran 15 Inci dan Kompromi yang Menyertainya

Perpindahan ke ukuran 15 inci masih dalam tahap penyesuaian. Alasan utamanya adalah kebutuhan kerja yang kerap menuntut multi window lebih besar, sesuatu yang lebih terakomodasi di layar 15 inci, apalagi kebutuhan mobilitas ringan sudah terpenuhi oleh iPad Pro 13 inci. Konsekuensinya, bobot dan dimensi yang lebih besar harus diterima, bahkan sampai tas yang biasa dipakai tidak lagi muat, sehingga muncul pertimbangan untuk mengganti tas.
Ekosistem perangkat ini juga berpindah tangan di dalam tim. MacBook Air M4 13 inci akan digunakan Daniel yang ingin downsize dari M2 15 inci, sementara unit M2 lama kini dipakai Nata, dan MacBook Air M3 15 inci sebelumnya dipakai Anes. Perpindahan ini menggambarkan bagaimana tiap perangkat masih punya tempatnya sesuai kebutuhan masing-masing.
Sebuah Upgrade di Tengah Ekonomi yang Menantang

Pada akhirnya, cerita upgrade ini tidak bisa dilepaskan dari konteks harga yang menantang di masa ekonomi sekarang, dengan dolar yang naik dan harga chip flash storage serta RAM yang ikut melambung. Setelah sekian lama Apple bertahan dengan harga lama karena kesepakatan sebelumnya, penyesuaian baru akhirnya membuat harga perangkat mereka naik. Chip M5 base membuktikan diri sebagai lompatan yang terasa, terutama di sektor AI dan kecepatan SSD, dengan standar base model yang kini jauh lebih nyaman di 16GB dan 512GB. Satu-satunya lini Apple yang belum ikut naik adalah iPhone, yang membuat penantian menuju generasi berikutnya terasa sedikit menegangkan. Untuk yang sedang mempertimbangkan langkah serupa, momen seperti ini jadi pengingat bahwa terkadang keputusan cepat justru menyelamatkan

Comment