Highlight
Bestindotech- KONKR Pocket Advance memakai chip MediaTek Helio G90T, layar LCD IPS 3.5 inci, dan baterai 4000 mAh.
- Harga versi 4GB/64GB ada di 109 USD sekitar 1,9 juta rupiah, sementara versi 3GB/32GB dibanderol 89 USD atau 1,5 juta rupiah.
- Emulasi PS2 dan GameCube masih terasa berat dengan fps yang naik turun, sementara GBA, PSP, dan PS1 berjalan mulus di 60 fps.
Where to Buy
1 productBestindotech may earn a commission from these links, at no extra cost to you.
Ada satu perasaan yang susah dijelaskan ke orang yang tidak pernah merasakannya sendiri, yaitu momen baterai Game Boy Advance habis di tengah pertarungan boss yang sudah dikejar berjam-jam. Tidak ada fitur save di sembarang titik, tidak ada cara untuk mengulang selain pasrah dan mulai dari checkpoint terakhir. Buat generasi yang tumbuh dengan device itu, kenangan ini bukan sekadar nostalgia manis, tapi juga trauma kecil yang lucu untuk dikenang.
KONKR Pocket Advance hadir sebagai jawaban untuk rasa rindu itu. Device ini adalah sub brand dari AYANEO yang dibuat dengan harga lebih terjangkau, tapi tetap mempertahankan desain retro yang kental. Di artikel ini akan dibahas bagaimana rasanya bermain game dari Game Boy Advance, PSP, PS1, PS2, sampai GameCube di perangkat mungil ini, termasuk trik custom interface yang bisa membuat tampilannya makin jadul.
Spesifikasi yang Ditawarkan untuk Harga Segini

KONKR Pocket Advance memakai layar 3.5 inci LCD IPS Display dengan aspek rasio 3 banding 2. Dapur pacunya mengandalkan chipset MediaTek Helio G90T dengan dua pilihan penyimpanan, yaitu 3GB/32GB dan 4GB/64GB yang menjadi unit yang diuji kali ini. Ada juga slot microSD card untuk menambah kapasitas penyimpanan ROM game.
Device ini dilengkapi sistem pendingin aktif dengan built-in fan, baterai berkapasitas 4000 mAh, konektivitas Wi-Fi 5, Bluetooth 5, port USB Type-C 2.0, dan jack headphone 3.5mm. Fitur lain yang disematkan mencakup stereo speaker, gyroscope, dan vibration. Beratnya sekitar 224 gram dengan pilihan warna navy, coral, dan grey.
Angka baterai 4000 mAh ini jadi jawaban langsung atas trauma masa kecil banyak orang yang sering kehabisan daya di tengah permainan. Dengan kapasitas segini, sesi bermain jadi jauh lebih tenang tanpa was-was baterai tiba-tiba mati di momen krusial.
Tampilan Default yang Mengusung UI AYANEO

Sebelum masuk ke custom interface, device ini pertama kali dijalankan dengan tampilan default bernama Aya Home, yang merupakan UI bawaan dari AYANEO dan KONKR. Dari sini pengguna bisa mengakses beberapa aplikasi, salah satunya Aya Space yang berfungsi sebagai tempat meng-compile game-game yang sudah dimasukkan ke device.
Untuk penggunaan harian, ada menu bernama Focus yang menampilkan game-game favorit agar bisa langsung diakses tanpa perlu bolak-balik menu. Layar ini mendukung touch screen, sehingga scrolling menu terasa responsif dan aman digunakan.
Karena device ini berbasis Android 12, penggunanya bebas melakukan kustomisasi lebih jauh, mulai dari menambahkan emulator apapun hingga mengganti launcher. Bahkan secara teori, sistem operasi ini juga bisa dipakai untuk aplikasi harian seperti WhatsApp, meski fokus utama device ini tetap di sektor gaming.
Desain yang Membawa Kembali Nuansa Game Boy Advance

Dari sisi tampilan fisik, KONKR Pocket Advance benar-benar mengusung nuansa Game Boy Advance dengan warna Indigo yang menjadi salah satu warna paling ikonik dari device jadul tersebut. Tulisan Pocket Advance juga sengaja ditempatkan di bagian atas, mengingatkan pada posisi tulisan Game Boy Advance di masa lalu.
Jika dulu tombol yang tersedia hanya B dan A, kini device ini punya empat tombol utama sehingga lebih fleksibel untuk menyesuaikan kontrol di berbagai emulasi game. Bagian atas juga dipenuhi tombol tambahan yang totalnya mencapai enam tombol customizable, lengkap dengan lubang ventilasi untuk cooling fan yang bekerja saat game berat dimainkan.
Bagian grip di kiri dan kanan bawah memiliki tekstur yang cukup nyaman digenggam sehari-hari dan tidak licin, sebuah detail penting mengingat banyak device retro lama justru punya masalah genggaman yang licin terutama saat tangan berkeringat.
Detail Port dan Kualitas Suara yang Terasa Jernih

Di bagian bawah tersedia slot microSD card di sisi kiri yang dimanfaatkan untuk menambah ROM game tanpa harus membebani penyimpanan internal yang hanya 64GB. Ada juga jack headphone 3.5mm yang tetap berguna untuk momen nostalgia penuh, meski koneksi Bluetooth juga tersedia untuk memakai TWS atau Airpods.
Tombol volume ditempatkan dengan posisi yang memudahkan pengaturan naik turun suara. Soal kualitas audio, speaker stereo di bagian bawah device ini terdengar jernih, khususnya untuk game-game jadul seperti GBA yang karakter suaranya memang didominasi frekuensi mid ke high.
Baterai 4000 mAh ini juga jadi pembeda besar dibanding era Game Boy Advance yang mengandalkan dua baterai AA. Dulu banyak pemain kehilangan progress permainan karena baterai habis di tengah jalan tanpa bisa save, sesuatu yang kini praktis tidak lagi jadi masalah.
Socket Launcher yang Membuat Nostalgia Makin Terasa

Salah satu bagian paling menarik dari pengalaman ini adalah kustomisasi front end memakai Socket Launcher, yang didapat dari komunitas developer di Patreon. Launcher ini dibuat khusus untuk membuat tampilan emulasi di HP atau device gaming terasa lebih old school, mulai dari tekstur, interface, hingga efek suaranya.
Yang membuat launcher ini istimewa adalah animasi saat membuka game, yang menampilkan efek seolah memasukkan cartridge fisik ke dalam device, layaknya pengalaman asli memainkan konsol jadul. Tampilan launcher ini juga menyesuaikan bentuk sesuai konsol yang dimainkan, misalnya bentuk disk untuk PS2 dan PS1.
Untuk mendapatkan interface ini, tersedia opsi donasi di Patreon sekitar 6,6 USD atau sekitar 120 ribu rupiah, dan penggunanya akan mendapat file APK yang tinggal diinstal di device. Meski sudah memakai front end custom, akses ke menu performance dari AYANEO tetap bisa dijangkau lewat tombol khusus di bagian bawah kanan.
Uji Coba GBA yang Membuktikan Games Lama Ternyata Susah

Saat mencoba memainkan Breath of Fire 2, sebuah game Japanese RPG dari era GBA, layar IPS pada device ini terasa terlalu terang dan cerah untuk nuansa retro yang diharapkan. Warna yang seharusnya terlihat sedikit pudar khas layar jadul justru tampil lebih tajam, meski hal ini sebenarnya lebih cocok dipakai untuk game-game yang lebih modern seperti PS2 atau PSP.
Saat mencoba game Super Mario World bersama rekan lain di studio, ternyata banyak yang kaget dengan tingkat kesulitan game-game lama yang jauh lebih menantang dibanding game masa kini. Momen game over pun terasa related dengan pengalaman masa kecil banyak orang yang sering menyewa Game Boy dan harus rela kalah karena waktu sewa habis.
Untuk performance mode, GBA cukup dijalankan di mode balance saja tanpa perlu menaikkan ke mode Max, karena kebutuhan resource untuk emulasi game jadul ini memang jauh lebih ringan dibanding konsol generasi setelahnya.
Performa PSP dan PS1 yang Berjalan Mulus di 60 FPS

Masuk ke pengujian game yang lebih berat, God of War di emulasi PSP berhasil dimainkan dengan mode performance dinaikkan ke gaming dan hasilnya mencapai 60 fps tanpa lag sama sekali. Resolusi native yang dipakai berada di 1x, dan karena resolusi layar device ini hanya 960p, beban terhadap chipset jadi jauh lebih ringan.
Angka 60 fps ini penting karena awalnya banyak yang mengira device sekelas ini hanya akan sanggup di kisaran 30 fps untuk game PSP. Kenyataannya, permainan seperti Garo 4 tetap terasa smooth dan enak dimainkan meski di layar yang kecil.
Hasil ini menunjukkan bahwa untuk emulasi game generasi PSP dan PS1, KONKR Pocket Advance sudah lebih dari cukup mumpuni tanpa perlu banyak kompromi di sisi frame rate maupun kenyamanan bermain.
PS2 dan GameCube yang Mulai Menunjukkan Batas Kemampuan

Beranjak ke emulasi PS2, performance mode dinaikkan ke Max namun hasilnya mulai terlihat sedikit nge-lag, dengan fps yang naik turun di kisaran 60 hingga 30. Audio pun terasa mengalami delay, terutama saat memainkan game dengan banyak animasi dan elemen yang perlu dirender secara bersamaan.
Di sisi GameCube, saat mencoba Zelda, frame rate yang didapat berada di angka 20 fps. Untuk cutscene, tampilannya masih terlihat wajar, namun begitu masuk ke world map yang lebih kompleks, lag mulai terasa jelas. Sebaliknya, di map yang lebih kecil dan sederhana, permainan masih bisa berjalan meski tetap perlu penyesuaian.
Dari sini terlihat jelas bahwa performa device ini sangat bergantung pada bobot game yang dimainkan. GBA dan PSP terbukti aman dimainkan tanpa masalah, sementara PS2 dan GameCube butuh kurasi lebih ketat, dengan game-game ringan yang lebih disarankan dibanding judul dengan banyak elemen visual berat.
Kenapa Device Ini Layak Jadi Teman Nostalgia Harian

Setelah mencoba berbagai game dari Game Boy Advance hingga PS2, KONKR Pocket Advance terasa berhasil membawa kembali sensasi masa kecil memegang konsol genggam yang penuh kenangan. Semua game bisa dimasukkan ke dalam satu device, dengan interface yang bisa dikustomisasi sesuai selera masing-masing pengguna.
Layar yang berbasis touch screen jadi nilai tambah tersendiri untuk navigasi, meski untuk game-game jadul kecerahannya terasa sedikit berlebihan. Namun untuk game PS2, PSP, dan GameCube, tingkat kecerahan ini justru pas dan membuat visual terlihat lebih jelas. Dari sisi audio, speaker bawaan sudah cukup nyaman dipakai tanpa headphone, sementara opsi Bluetooth tetap tersedia untuk kebutuhan mobilitas di luar rumah.
Untuk harga, versi 4GB/64GB yang diuji dibanderol 109 USD atau sekitar 1,9 juta rupiah, sedangkan versi 3GB/32GB berada di 89 USD atau sekitar 1,5 juta rupiah. Dibandingkan dengan lini AYANEO, harga ini jelas jauh lebih terjangkau, sekaligus tetap membuka ruang kustomisasi luas berkat basis Android yang dipakainya.
Pada akhirnya, nilai utama dari KONKR Pocket Advance bukan cuma soal kemampuannya menjalankan berbagai emulator, tapi bagaimana device ini berhasil mengembalikan perasaan lama tanpa mengulang kekurangan yang dulu membuat frustrasi, seperti baterai yang cepat habis di tengah permainan penting.

Comment