Review Vivo X500: Desain Berubah, Tapi Kamera dan Baterai Naik Level

Review Vivo X500: Desain Berubah, Tapi Kamera dan Baterai Naik Level

Highlight

Bestindotech
  • Vivo X500 pakai telephoto baru 64MP Sony LYT-610 dengan focal length 72mm yang diklaim setara 3,1x zoom optis.
  • Chipset Dimensity 9600M identik secara spek dengan Dimensity 9500 di X300, namun opsi RAM turun dari 16GB jadi maksimal 12GB saja.
  • Baterai naik 25% dari X300 dengan charging tetap di 90W wired dan 40W wireless, sementara skor Antutu tembus 2,8 juta poin.
Slot tersediaPasang Iklan Brand Anda di SiniWhatsApp

Where to Buy

2 products

Bestindotech may earn a commission from these links, at no extra cost to you.

Ada satu dilema yang sering muncul ketika sebuah seri HP flagship tiba-tiba berubah drastis dari generasi sebelumnya. Di satu sisi, perubahan radikal bisa jadi tanda inovasi yang berani. Di sisi lain, perubahan itu juga bisa membuat fans lama bertanya-tanya, apakah ini masih HP yang mereka kenal atau sudah jadi lini yang sama sekali baru.

Vivo X500 ada di persimpangan itu. Secara penamaan, HP ini memang penerus Vivo X300 reguler. Tapi begitu dibongkar dari segi desain, kamera, chipset, sampai baterai, rasanya seperti sedang berhadapan dengan lini produk yang berbeda. Pertanyaannya sekarang, apakah Vivo X500 ini layak dipertimbangkan, atau cuma menarik buat kalangan tertentu saja?

Penerus X300 yang Terasa seperti Lini Baru

Informasi perangkat Vivo X500 dengan OriginOS 7 dan spesifikasi utama
Informasi perangkat Vivo X500 dengan OriginOS 7 dan spesifikasi utama

Secara spesifikasi dan ukuran, Vivo X500 punya jarak yang cukup jauh dari X300. Layarnya naik ke 6,59 inci, bobotnya bertambah 21 gram, setup kamera di bagian maincam dan telephoto berganti sensor, chipsetnya diperbarui, dan kapasitas baterainya meningkat jauh. Semua perubahan ini membuat X500 terasa seperti lini baru yang dimasukkan ke dalam X Series, bukan sekadar penerus langsung.

Menariknya, yang justru lebih mirip dengan X300 dari segi bentuk dan ukuran adalah Vivo X500 Pro, karena sama-sama compact dengan frame bulat besar di modul kameranya. Sayangnya, Vivo X500 Pro tidak masuk resmi ke Indonesia. Jadi pilihan yang tersedia untuk konsumen Indonesia cuma dua, tetap di X500 reguler atau langsung loncat ke X500 Pro Max yang ukurannya jauh lebih besar.

Desain Nyentrik yang Mengundang Pro dan Kontra

Desain modul kamera belakang Vivo X500 dengan logo ZEISS
Desain modul kamera belakang Vivo X500 dengan logo ZEISS

Bagian paling menarik sekaligus paling diperdebatkan dari HP ini ada di desainnya. Modul kamera belakang Vivo X500 terlihat mengambil referensi dari kamera peletuh milik iPhone 17. Tapi setelah ditelusuri lebih jauh, desain ini ternyata juga punya kemiripan siluet dengan Vivo X80, hanya saja bagian kamera peletuhnya dulu diberi warna hitam.

Frame kamera di X500 didesain seolah menyatu secara unibody, padahal sebenarnya ada lapisan tambahan di bagian atasnya. Sedikit nyiku saat tersentuh jari telunjuk, tapi tidak mengganggu untuk pemakaian harian. Saat diletakkan flat di permukaan datar, HP ini masih punya sedikit wiggle, namun tidak sampai mengganggu.

Dari sisi material, semua sisi HP ini dibuat dari aluminium dengan bagian belakang kaca, sehingga terasa seperti barang mahal meski digenggam tanpa case. Bobotnya tembus 211 gram, menambah kesan material premium tersebut. Pilihan warnanya ada empat di Cina, namun yang masuk resmi ke Indonesia kemungkinan hanya tiga yaitu putih, hitam, dan abu-abu, dengan varian pink tidak dibawa masuk.

Telephoto Baru yang Hasilnya Membuat Kaget

Vivo X500 mengusung tiga lensa di bagian belakang. Kamera utama memakai sensor Sony LYT-828 50MP, sementara telephotonya berganti ke sensor 64MP Sony LYT-610 dengan focal length 72mm yang disebut setara 3,1x zoom. Ultrawide dan kamera selfie masih sama-sama di resolusi 50MP seperti sebelumnya.

Di kondisi pencahayaan ekstrem maupun low light, kamera utama tetap menampilkan detail yang bagus dengan warna yang pas, baik dalam mode normal maupun saat memakai 2x digital zoom. Namun yang paling mengejutkan justru ada di hasil telephoto 3,1x. Saat dipakai memotret bunga dan lebah, hasilnya terasa seperti menggunakan kamera mirrorless, meskipun kalau diperhatikan lebih dekat masih ada sedikit sharpening dari proses pengolahan gambar.

Mode potret dengan digital zoom dari telephoto di focal length 85mm menunjukkan sedikit inkonsistensi temperatur warna, kadang terasa hangat, kadang terlalu dingin. Kemungkinan ini karena software yang dipakai saat pengujian belum final, dan diperkirakan akan diperbaiki sebelum dijual ke publik.

Ultrawide dan Selfie yang Tetap Konsisten

Kamera ultrawide tetap membawa karakter yang sama dengan kamera utama dan telephoto, dengan ketajaman dan detail yang terjaga. Hanya saja ada sedikit perbedaan exposure yang terlihat lebih rendah saat dipakai memotret di kondisi ekstrem atau gelap, meski detailnya tetap terjaga baik.

Kamera selfie dengan bukaan lebar di 20mm memudahkan untuk mengambil foto bersama teman dalam satu frame. Proses AI untuk menambah detail wajah juga terlihat jelas saat hasilnya diperhatikan lebih dekat.

Untuk video, Vivo X500 series membawa fitur baru bernama Film atau Movie Workshop yang di dalamnya ada fitur Vortex untuk menghasilkan shot berputar seperti menggunakan gimbal, serta Auto Framing yang otomatis mengikuti pergerakan subjek dalam frame. Perekaman 4K 30fps memungkinkan perpindahan antar lensa secara halus, sementara di 4K 60fps fitur perputaran lensa ini tidak tersedia. Zoom reguler mentok di 15x, sedangkan varian Pro Max bisa mencapai 30x dan mendukung perekaman hingga 4K 240fps.

Dimensity 9600M dan Konsekuensi di Opsi RAM

Dimensity 9600M di Vivo X500 dengan RAM 12GB

Vivo X500 mengusung chipset Dimensity 9600M yang secara spesifikasi identik dengan Dimensity 9500 yang dipakai X300 tahun lalu. Yang berubah justru ada di opsi RAM, karena varian 16GB kini sudah tidak tersedia lagi. Semua pilihan storage kini hanya dibekali RAM 12GB.

Pengurangan ini bukan hal kecil untuk HP di kelas flagship, karena biasanya opsi RAM besar jadi daya tarik tersendiri bagi pengguna yang butuh multitasking berat. Untuk performa mentah, skor Antutu yang dicatat berada di angka 2,8 juta poin, sementara Geekbench multi core score berada di kisaran 7 ribuan poin. Angka ini menunjukkan performa yang solid untuk pemakaian harian maupun gaming, sejalan dengan chipset yang memang sudah terbukti kuat di generasi sebelumnya.

OriginOS 7 yang Membuat Interface Terasa Lebih Hidup

Tampilan layar kunci OriginOS 7 dengan fitur Pet Pals
Tampilan layar kunci OriginOS 7 dengan fitur Pet Pals

Pengalaman harian menggunakan Vivo X500 kemungkinan akan serupa dengan X300, tapi dengan UI dan UX yang jauh lebih baik berkat OriginOS 7. Animasi di sistem operasi ini disebut sebagai Spring Animation, memberikan efek seperti ngeper atau sedikit memantul saat berinteraksi dengan elemen di layar. Ditambah lagi ada fitur-fitur kecil seperti wiggle, glint, hingga pad pulse di lock screen yang membuat HP ini terasa lebih fun untuk dipakai sehari-hari maupun dipamerkan ke teman.

Fitur productivity bernama Origin Workbench juga hadir dengan konsep yang mirip stage manager, memungkinkan perpindahan antar aplikasi terasa berbeda dari HP kebanyakan, lebih seperti pengalaman menggunakan laptop. Meski begitu, fitur ini sebenarnya terasa lebih cocok dipakai di HP foldable Vivo seperti X Fold 6, karena layar dalamnya yang lebih besar dan berbentuk kotak membuat Workbench jadi lebih masuk akal untuk digunakan.

Baterai Lebih Besar yang Jadi Andalan Utama

Informasi kecepatan pengisian daya 90W FlashCharge dan 40W Wireless FlashCharge
Informasi kecepatan pengisian daya 90W FlashCharge dan 40W Wireless FlashCharge

Dari segi baterai, Vivo X500 mencatat peningkatan kapasitas hingga 25% dibanding X300, sejalan dengan ukuran bodinya yang juga membesar. Peningkatan kapasitas sebesar ini biasanya langsung terasa di pemakaian harian, terutama untuk pengguna yang sering screen-on time panjang. Kecepatan charging tetap berada di angka yang sama seperti sebelumnya, yaitu 90W untuk wired dan 40W untuk wireless. Karena kapasitas baterainya membesar sementara kecepatan charging tidak berubah, secara teori waktu pengisian penuh akan sedikit lebih lama dibanding X300.

Layar LTPS dan Speaker yang Lebih Membulat

Spesifikasi layar Vivo X500 dengan panel LTPS AMOLED 6.59 inci
Spesifikasi layar Vivo X500 dengan panel LTPS AMOLED 6.59 inci

Ukuran layar Vivo X500 terasa pas khususnya bagi pengguna yang sebelumnya memakai HP compact seperti Galaxy S23 atau iPhone 16 Pro di kisaran 6,3 inci. Perpindahan ke ukuran yang sedikit lebih besar ini memberi rasa puas tanpa kehilangan sisi portabilitas.

Sayangnya, layar ini masih memakai teknologi LTPS, bukan LTPO, sehingga refresh rate tidak bisa turun ke 1Hz saat always on display aktif dan mentok di 60Hz. Di sisi lain, refresh rate tertingginya naik menjadi 144Hz untuk aplikasi tertentu, lebih tinggi dari generasi sebelumnya. Untuk kecerahan, layar ini terbukti tetap terang saat dipakai di kondisi outdoor maupun untuk motret-motret sehari-hari. Speakernya pun membawa kejutan tersendiri, karena suara yang dihasilkan tidak cempreng dan justru terdengar lebih kebulet dengan bass yang cukup terasa saat memutar lagu.

Harga yang Jadi Penentu Akhir Soal Worth It atau Tidak

Perbandingan harga Vivo X300 dengan Vivo X500 di Cina yang naik 1.100 yuan

Meski secara penamaan menjadi penerus X300, Vivo X500 terasa seperti lini baru tersendiri di seri X500. Desainnya memang mengundang pro dan kontra, tapi ukuran layarnya yang membesar sedikit justru pas untuk pengguna HP compact yang ingin upgrade tanpa kehilangan portabilitas. Hasil kameranya pun tidak kalah dibanding seri Pro Max, bahkan cukup percaya diri untuk disandingkan langsung dengan kakaknya.

Chipset yang identik dengan generasi sebelumnya dan opsi RAM yang turun jadi hanya 12GB memang jadi catatan minus. Namun hal itu tertutup oleh baterai yang lebih besar dan OriginOS 7 yang membawa banyak fitur baru dan menyenangkan untuk dipakai sehari-hari.

Soal harga, belum ada kabar resmi dari Vivo Indonesia. Namun jika mengacu pada kenaikan SRP di Cina sebesar 1.100 yuan atau sekitar 2,9 juta rupiah untuk varian storage dasar, perkiraan harga di Indonesia bisa menyentuh angka 18 juta rupiah. Angka ini jelas tergolong mahal untuk sebuah HP di kelasnya.

Vivo X500 memang bukan HP untuk semua orang. Ini adalah HP untuk mereka yang punya dana lebih dan rela mengeluarkan uang demi pengalaman yang berbeda dari HP lain, khususnya buat yang ingin mengeksplorasi sisi kamera Vivo secara maksimal. Di luar debat soal desainnya yang nyeleneh, kombinasi telephoto baru, baterai besar, dan OriginOS 7 membuat X500 tetap jadi salah satu HP paling menarik untuk dipantau terus hingga rilis resminya di Indonesia.

Comment

Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berbagi pendapat!